Mizan yang merasa agak sedikit janggal mencoba ke sana. Pertama kali duduk di gazebo tersebut semilir angin terasa menerpa tubuhnya. Punggungnya yang terasa sangat pegal merayunya untuk merebahkan badan. Lalu dia akhirnya terpejam dengan buaian semilir angin. Waktu terasa begitu cepat. Saat Mizan membuka mata, ternyata telah satu jam dia terlelap. Kebiasaannya setelah tidur tak bisa dia tahan lagi. Dia menunaikan hajatnya pada kamar mandi yang ada tak jauh dari gazebo. Saat tangannya mencoba mencari gayung, yang ada hanya sebuah batok kelapa setengah bulat di dalam sana. Kembali sebuah pertanyaan timbul di benaknya.
Di lain hari Mizan kembali menyambangi gazebo itu. Setelah bekerja dan mendapat izin untuk kembali menginap dia sempatkan membawa beberapa buku, duduk kembali di gazebo sembari menyantap beberapa kudapan yang dia beli di minimarket. Tak sengaja pak Jarkoni, salah satu pegawai, melihatnya saat melintas. Lantas beliau memanggil Mizan. Dengan lekas kaki pemuda itu menghampiri.

“Heh, kamu gak takut apa?” mendengar hal tersebut pemuda itu hanya plonga-plongo.
“Aduh, ini anak baru. Besok saja aku ceritakan waktu di kantor.”
Mizan hanya bisa menggaruk-garuk kepala setelah perbincangan singkat tersebut. Dia lantas tak acuh dan kembali ke tempat nyamannya. Esok harinya saat masuk pertama ke kantor, Mizan sudah disambut dengan berpasang tatapan mata yang tertuju padanya. Juga ada beberapa yang bicara dengan bisik-bisik. Seolah ada yang aneh dengan dirinya. Lantas dia mencoba memperhatikan dandanannya, namun tetap tak ia temukan apa yang aneh.
Dalam sekejap saja mentari sudah berada di puncak ubun-ubun. Waktu bagi para pekerja melemaskan otot mereka. Tak lama sang bos datang, membawa oleh-oleh dan lalu beranjak kembali. Semuanya berebut meminta jatah namun mereka juga tak lupa menanyakan tentang Mizan yang pernah terlihat menyambangi gazebo.
Dia pun mengiyakan, berharap juga mendapat jawaban. Apa ada yang aneh dengan gazebo tersebut? Pernah beredar desas-desus di antara pegawai bahwa tempat itu adalah salah satu tempat keramat di rumah bos mereka. Mizan mulai tertarik dengan cerita itu. Dia memasang telinga baik-baik sambil mulutnya tak berhenti mengunyah. Batok kelapa yang dibuat gayung di kamar mandi belakang rumah itu katanya memiliki kekuatan magis. Itu adalah salah satu barang yang katanya bisa menyukseskan Andy sampai sekarang.
Suatu hari ada karyawan yang mencoba mencurinya. Setelah ketahuan lewat cctv belakang rumah, karyawan tersebut langsung dipecat esok harinya. Kemudian ada juga, saat gayung tersebut hilang dari tempatnya, seluruh rumah dan sebagian karyawan dikerahkan untuk mencarinya. Ternyata salah satu sepupunya yang memindahkan untuk mewadahi sesuatu. Dan banyak cerita aneh lainnya.
Selama seminggu Mizan tak bisa tidur nyenyak di kosnya. Dia terngiang semua yang telah diceritakan para senior di tempat kerja. Apalah daya cerita itu begitu meyakinkan, namun Mizan tak ingin menelannya begitu saja. Berapa hari kemudian Japri kembali dari desa, itu pertanda bahwa jatah freelance-nya telah usai. Pagi di hari berikutnya sang bos memanggil untuk menyerahkan hak anak muda tersebut. Namun tetap saja, ada hal yang masih mengganjal.
“Bos, maaf. Sebelum saya pamit saya boleh tanya sesuatu?”
