“Malam ini adalah sebuah gerbang waktu yang sakral untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk duniawi, lalu menengok ke dalam diri kita masing-masing. Dalam falsafah budaya Jawa yang luhur, malam ini adalah momentum terbaik untuk melaksanakan prinsip ‘eling lan waspada,'” ujarnya.
Namun, pakar kebudayaan Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo melihat telah terjadi pergeseran dan perubahan makna amelioratif menjadi peyoratif dalam memaknai peringatan 1 Suro. Sebelumnya, 1 Suro merupakan hari yang baik, karena di saat itulah masyarakat Jawa melakukan penyucian diri, interospeksi serta evaluasi diri setelah menjalani kehidupan selama setahun.

Seiring perjalanan waktu, 1 Suro bergeser dan berubah menjadi bermakna tidak baik. 1 Suro mendapat konotasi negatif sebagai waktu yang menakutkan, hantu bergentayangan, angker, dan mengundang sial. Film-film horor secara latah ikut meracuni dan memvalidasi pemahaman negatif ini.
“Marilah di malam 1 Suro ini kita bersama-sama melakukan evaluasi dan perbaikan diri. Jadi dosen, jadilah dosen yang baik. Jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik. Jadi pejabat, jadilah pejabat yang baik. Jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik,” tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Sastra Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko menyampaikan pesan luhur 1 Suro melalui tembang Jawa, yang berisi ajakan untuk merawat dan menjaga budaya bangsa
