Menurutnya, penyatuan kalender Jawa dan Hijriyah ini merupakan bentuk ijtihad kebudayaan yang genius, kreatif, dan inovatif dari Sultan Agung dalam menautkan agama dan tradisi tanpa meleburkan keduanya. Sehingga bentuk dan jejak masing-masing masih jelas terlihat (ciltural affinity).
“Sedangkan makna spiritual perayaan 1 Suro merupakan momentum menggali dan menghidupkan spirit religiusitas melalui berbagai laku spiritual.yang reflektif seperti muhasabah (refleksi diri), meditasi dan sejenisnya,” ujar Ngatawi Al Zastrouw.

Pada kesempatan yang sama, pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr Turita Indah Setyani mengungkapkan, tahun baru Islam dan Jawa, 1 Suro, oleh para leluhur dipandang sebagai waktu untuk manekung atau bertafakur dan ber-taqarrub.
“Melalui laku tafakur dan taqarrub, kita diajak merefleksikan perjalanan hidup yang sudah dilalui, menyucikan niat ke depan, serta menumbuhkan kesadaran akan hubungan dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam semesta,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam pidato pembuka, Wakil Ketua Komoenitas Makara Gunawan Wicaksono menjelaskan, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian angka pada kalender Jawa maupun Hijriah.
