Genealogi Puisi Santri Annuqayah

Moh Muhsin Amir salah seorang pengasuh saat ini menorehkan sebuah puisi dengan judul “Diam”, “Kemerdekaan”, dan “Berilah Aku Setetes Kasihmu.” Mohammad Shalahuddin atau yang biasa dipanggil Ra Mamak, menulis larik sajak dengan judul “Bukit”, “Berlibur”, “Perdebatan Submikroskopik”, dan “Rahim.”

Dan masih banyak lagi puisi-puisi dari generasi saat ini, seperti Mohammad Naqib Hasan, Luqmanul Hakim, Alfu Laila, Muhammad Affan, Raedu Basa, dan lain-lain. Mereka adalah para masyayikh baik dari generasi awal maupun masa kini yang mencoba membangun kolaborasi puisi sebagai bentuk pendidikan dalam literasi. Puisi-puisi yang dibangun dalam antologi puisi ini pantas untuk dijadikan inspirasi bahwa sebenarnya di dalam puisi itu terdapat nilai dakwah sekaligus nilai pendidikan dan pengajaran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku hanyalah segumpal awan/yang akan menaungi dan menghujani benih-benih/yang bertabur dalam sulur-sulur nadimu,” adalah Asy’ari Khatib, seorang alumni Pesantren Annuqayah yang terus mengabdi menjadi tenaga pengajar di pesantren ini. Larik puisi di atas merupakan penggalan karya Beliau di bawah judul “Siluet.” Sebuah harapan agar menjadi bermanfaat kepada orang lain dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Alan Tiffanuri merupakan nama pena dari Abdul Latif Anwar dalam puisinya “Tanah Pusaka” menyitir kondisi tanah leluhur, tanah kelahiran yang semakin sesak dengan bangunan menjulang. Maka pada akhirnya kondisi geologi ini akan mengalami sebuah bencana jika tidak disikapi dengan bijak.

Masih banyak lagi para penyair santri yang, kalau dalam bahasa Raedu Basa, merupakan sastra pesantren, yang sangat perlu untuk kita baca, dijadikan renungan sebagai nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Tidak kurang dari 80 penyair dari Pesantren Annuqayah ini yang mencoba memberikan peran dalam kepenulisan sastra, baik dari masyayikh, alumni, maupun santri aktif.

Tidak ada gading yang tak retak. Sebagai terbitan pertama dari penerbit Jala (Jaring Literasi Alumni Annuqayah) Sumenep, bekerja sama dengan penerbit Ganding Pustaka Yogyakarta, masih terdapat bebera typo (salah ketik), serta format paragraf yang kurang enak dilihat. Terlepas dari kelemahan ini, buku antologi puisi ini sangat recomended untuk dibaca, direnungi, dan dijadikan inspirasi dalam literasi maupun nilai-nilai pengajaran hidup di dalamnya.

Akhirnya, saya sebagai peresensi memohon maaf jika kiranya dalam catatan ini terdapat kekeliruan, ada ungkapan-ungkapan yang kurang benar, mengharap saran dan pembenaran, sehingg ke depan dapat membuat resensi yang lebih baik. Berharap kepada Allah bahwa catatan kecil ini dapat bernilai ibadah serta memberikan manfaat untuk penulis khususnya dan untuk semua orang pada umumnya. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan