Di sebuah reruntuhan rumah yang diterjang longsor kemarin malam, Naryati mengais barang-barang yang masih bisa digunakan. Longsor yang menimpa rumahnya di desa Selopuro hanya menyisakan ruang tidurnya. Walaupun kehilangan harta bendanya, ia masih bersyukur karena ia dan Alfi, anak semata wayangnya, masih selamat.
Yati sudah terbiasa dengan berbagai macam kehilangan. Beberpa tahun lalu ia kehilangan rumahnya karena untuk pengobatan suaminya yang menderita sakit lever. Ia tidak pernah menyesal ketika harta bendanya habis untuk menolong nyawa suaminya, walaupun berakhir dengan kematian suaminya. Satu-satunya rumah sewa gratis yang sekarang ia tinggali sudah tenggelam oleh tanah longsor bersama harta bendanya.

***
Minggu, 14 Februari 2021, pukul 23.00 di SDN Ngetos 3.
“Sampai kapan kita tinggal di sini, Bu?” tanya Alfi.
“Aku tidak tahu, Al. Bu Santo, yang memberikan tempat tinggal kepada kita ini, masih belum ketemu.”
“Berarti kita sudah tidak punya tempat tinggal?”
“Sudah, jangan berangan terlalu jauh. Kita harus bersyukur karena kita masih diberi rahmat berupa kehidupan untuk berbuat amal kebaikan, Nak. Ingat pesanku, harta benda itu bisa dicari. Tetapi kehidupan tidak bisa. Jadi kita harus mensyukurinya.”
“Iya Bu.”
Yati selalu menanamkan budi pekerti kepada Alfi. Ia berharap kelak Alfi bisa menjadi anak yang bisa membanggakan orang tuanya.
Keesokan paginya, Yati pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Dengan mendatangi setiap penjual di pasar, ia menawarkan tenaganya.
“Assalamuaikum, Bu. Apa ada pekerjaan untuk saya?”
“Waalaikumsalam. Di sini pekerjanya sudah banyak. Lagian sekarang pasar sepi Bu, karena Corona.
Hari ini, hampir semua lapak di pasar sudah didatangi tapi tak ada yang berminat menggunakan tenaga perempuan empat puluh tahunan itu. Dengan berjalan layu, Yati memutuskan pulang ke pengungsian. Di tengah perjalan, terlihat Alfi sedang berjalan menghampirinya dengan membawakan sebuah nasi bungkus yang didaptkan dari pengungsian untuk ibunya.
“Yati, berhenti!” terdengar suara mememanggilnya dari arah kanan. Seorang laki-laki itu berlari kecil menghampiri Yati.
“Siapa itu, Bu?” Alfi bertanya sambil memberikan nasi bungkus kepada Yati.
Wajah Yati terlihat gugup ketika melihat laki-laki itu. Ia tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alfi.
“Tolonglah kasihani aku, Yat! Sekarang rumahku sudah hancur diterjang longsor. Anakku dan kritis di rumah sakit. Dulu aku mengasihanimu dengan meminjamimu uang ketika suamimu kritis. Apa ini balasanmu terhadap kebaikan keluargaku?” Santoso berkata dengan wajah merah padam.
“Bukan itu maksudku, Pak San. Dulu saya terpaksa meminjam uang kepada Bapak karena semuanya sudah kujual untuk menolong nyawa suamiku. Sekarang saya sedang mencari pekerjaan untuk mengangsur utangku, tapi…”
“Sudah sejak tiga tahun, kamu selalu berkata berniat mencari kerja untuk melunasi utangmu!” Santo diam sejenak. “Sekarang aku bingung untuk kehidupan sehari-hariku, apalagi ditambah biaya pengobatan keluargaku, aku bosan alasan yang sama. Anakmu aku bawa, ambilah jika kamu sudah membayar utangmu!”
“Tapi, Pak…”
“Pahamilah keadaanku, Ti. Aku tidak menginginkan anakmu. Aku hanya ingin kamu mengembalikan uangku. Seandainya aku memiliki uang untuk tambahan biaya pengobatan istiku dan biaya hidupku, aku tak mau seperti ini!”
“Ibu… ibu…,” Alfi menangis ketika digendong Santo. Yati pun seolah tak berdaya melihat anaknya dibawa.
“Jangan menangis, Paman Santo baik hati. Aku akan menjemputmu nanti malam.”
Perkataan Yati membuat Alfi sedikit tenang. Alfi yang sudah akrab dengan Santo dan Dewi, anak Santo, menambah ia semakin tenang.
Setelah membawanya melewati beberapa gang sempit dalam pasar, Santo menjelaskan kepada Alfi bahwa ia berniat mengajaknya ke rumah sakit.
“Lihatlah Dewi dan Bibi Zainab yang sedang kritis itu, Al.” Santo mengangkat Dewi untuk menengok sebuah jendela kaca ruang ICU. Ia kemudian menunjukkan kepada Alfi keadaan Dewi dan istrinya yang sedang terbaring dengan infus, ventilator, dan monitor jantung di dalam ruangan itu.
“Ibumu pasti ke sini nanti malam. Aku titip sebentar Dewi dan Bibi Zain ya? Jangan ke mana-mana. Aku mau beli makan siang untuk kita.”
Usai berpesan kepada Alfi, Santo pergi. Terbesirlah niat Alfi untuk mencari ibunya. Alfi pun menggunakan kesempatan itu untuk pulang ke pengungsian dengan berjalan kaki. Ia mengelilingi semua ruang di pengungisan. Tetapi ia tidak menemukan ibunya. Mbah Nem yang melihat Alfi sedang kebingungan bertanya kepadanya.
