Genealogi Puisi Santri Annuqayah

Masih hangat terasa jejak perjalanan itu, saat kami menyusuri lorong berduri, menapaki tilas masyayikh di antara sekian koridor perjuangan. Memburu catatan literalasi dari para masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah gampang-gampang susah. Atau lebih cenderung susah dan tidak mudah karena berbagai faktor dan alasan. Banyak suka dan duka ketika kami menelusuri jejak para masyayikh, teruma Beliau-Beliau yang sudah menghadap ke hadirat Allah.

Tetapi, dengan semangat pantang menyerah, semangat juang 45 mendera nurani kami untuk tidak surut dalam perjalanan ini. Dengan segenap upaya, daya dimaksimalkan untuk terus mencapai puncak kesuksesan demi sebuah target. Kolaborasi penyair masyayikh Pesantren Annuqayah berserta alumni dan santri aktif, merupakan tujuan utama dalam pencapaian yang dimaksud.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Puncaknya, Februari 2021, buku 1887 Antologi Puisi Isyarat Gelombang III dapat diterbitkan. Sebuah buku puisi yang tidak sekadar mengorbitkan diksi dan kata-kata, melainkan juga membangun ikatan jiwa antara pengasuh dan alumni, antara kiai dan para santri. Buku ini berkisah tentang kesantrian dari berbagai aspek. Tidak ada batas materi atau tema, yang pasti dari sudut-sudut irama puisi, syair, atau sajak dapat dipetik sari hikmah untuk menasbihkan identitas sebagai seorang santri.

Dalam sambutannya, Prof Dr KH A’la, M.Ag mengatakan, “Kekuatan antologi puisi ini, salah satunya, terletak pada para penulisnya yang terdiri dari mulai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah hingga para santri. Indah dan luar biasanya, pengasuh yang mencoretkan puisi mulai dari generasi awal hingga pengasuh saat ini.”

Menjadi sebuah nilai lebih dan lebih bernilai bahwa tulisan para masyayikh memberikan kontribusi yang begitu berarti dalam membangun intuisi dan inspirasi bagi para pembaca.

Puisi yang termaktub dari pengasuh generasi awal, seperti yang ditulis oleh KH Abdullah Sajjad, pengasuh Pesantren Annuqayah daerah Latee (generasi pertama), sebuah puisi dengan bahasa Madura. Salah saru liriknya, “Pong-pong gi’ odhi’, gi’ dha-ngodha/Pabajeng ngaji elmo akidah/Bhila lon nyaba dhapa’ gan dhadha/Kadiya kasta pon padha badha.” (Selagi masih hidup dan masih muda/Rajinlah mencari ilmu akidah/Jika napas (nyawa) sudah sampai di dada (sakaratul maut)/Tentunya sesal yang pasti ada).

Ada banyak diksi dengan nilai perpuisian yang dapat kita ambil hikmahnya. Membaca puisi dalam buku ini akan dibawa kepada sebuah perjumpaan batin. Bershilaturrahmi dengan para masyayikh, handai tolan, serta ikatan ruhani yang begitu erat.

Tinggalkan Balasan