Gubuk Bambu Sahid Irama

Ada kisah menarik ketika aku menghabiskan delapan hari di bulan puasa di gubuk itu. Begini ceritanya.

Jadi, sebentar dulu, yang perlu kalian ketahui sebelum kulanjutkan berkisah adalah nama dari pengasuh pondok pesantren tersebut. Beliau bernama KH Abdul Ghofur, dan aku lebih suka memanggil Mbah Yai saja. Takdzim, begitulah. Lanjut cerita, selama bulan puasa itu Mbah Yai mengampu pengajian yang hampir sehari full. Untuk santri Aliyah sampai Mahasiswa, beliau mengisi ngaji di tiga waktu dalam sehari-semalam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, jam 7 pagi dengan durasi sekitar 1 jam setengah. Ini diisi dengan ngaji magnum opus-nya Imam Ghazali, Ihya’ al-Ulum ad-Din, dan satu lagi kitab karangan Imam Ahmad bin Ali al-Buni, ulama sufi yang lebih dikenal sebagai pakar matematikawan, pengarang kitab Syams al-Ma’arif. Jadwal ngaji pagi hari itu dilaksanakan di mushola pondok putri.

Sementara sore harinya Mbah Yai juga mbalang kitab hadith, lokasinya di masjid desa dengan audiens seluruh santri mulai Tsanawiyah sampai Mahasiswa, bahkan masyarakat banyak pula yang ikut “jiping”, ngaji kuping. Tapi yang paling berkesan bagiku adalah ketika Mbah Yai ngajar ngaji di malam hari. Start pada jam 9 malam dan berakhir pada waktu sahur, jam setengah tiga pagi. Mampus kau! Berapa jam itu? Hitunglah sendiri. Syahdan, Ngaji dengan durasi selama itu hanya diberi waktu istirahat setengah jam, yakni pada jam 12 malam, terserah mau memilih istirahat untuk apa, pokok jam setengah satu balik dan tandang ngaji lagi.

Tinggalkan Balasan