Gubuk Bambu Sahid Irama

Tapi perlu kalian tahu, sebenarnya bukan ngaji dengan durasi berjam-jam itu yang membuatku kagum. Lebih tepatnya bukan hanya itu. Begini, jadi sewaktu aku ikut ngaji selama seminggu lebih sehari itu, aku memang sengaja ingin selalu menempati shaf paling depan. Bukan karena ingin benar-benar ngaji dengan khusyuk dan tampak rajin agar bisa menjadi tauladan umat. Bukan, bukan itu niatanku, dus tak setertib dan semulia itu aku, kalian tahu sendirilah.

Oke, kulanjutkan. Di hari pertamaku ikut ngaji malam, sungguh, kedua bola mataku seperti ingin copot. Berjam-jam melototin kitab, menundukkan wajah guna mencatat membuatku ingin cepat-cepat balik ke gubuk dan tidur saja. Padahal sebelum berangkat ngaji aku sudah diingatkan Sahid untuk membawa kopi dan rokok. Sayang, anjuran itu kutolak. Kukira situasinya tak sampai sedemikian parah dan menyakitkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Eh, tapi tahukah kalian, semalaman itu, ketika mastami’in banyak yang tumbang tertidur dan mungkin ada juga yang ngileri kitab, Mbah Yai sama sekali bergeming dalam singgasananya. Jangankan ngantuk, menguap saja tidak. Aneh. Ini kuamati sampai hari terakhir kitab itu khatam, yakni pada hari ke-28 Ramadhan, dan selama itu Mbah Yai tak pernah menguap sama sekali. Padahal ngaji malam adalah rutinitas harian. Tanpa libur. Sehabis subuh pun Mbah Yai masih ngajar ngaji lagi. Saat itu, kuhitung usia beliau sudah masuk kepala tujuh tapi beliau tetap sehat, energik, dan tangguh. Ah, jadi malu aku.

Memang, di banyak pesantren di Jawa ketika memasuki bulan Ramadhan terdapat tradisi kuat untuk khataman kitab kuning, entah kitab-kitab tebal atau kitab tipis. Budaya seperti ini sudah mengakar dan menjalar ke banyak pondok pesantren. Betapa bulan Ramadhan adalah waktu di mana konsentrasi pesantren adalah ngaji, ngaji, dan ngaji. Sungguh mengasyikkan memang hidup di pesantren, meski kadang juga terasa begitu melelahkan. Tapi ketika kau sudah menjadi alumni salah satu pesantren, kau baru akan merasakan kerinduan yang mendalam tentang hari-harimu dulu di pesantren.

Tinggalkan Balasan