Guru Sepanjang Waktu

Tak hanya di ruang-ruang kelas madrasah ibtidaiyah itu. Tak hanya pada jam-jam mata pelajaran berlaku. Sepanjang waktu, rumah Pak Dul selalu terbuka buat kami, murid-muridnya, untuk belajar kapan saja. Seringkali, di sore atau malam hari, saya bersama beberapa teman ke rumah Pak Dul. Di sana kami bisa belajar materi-materi pelajaran yang susah kami pahami selama di ruang kelas. Anak sekarang menyebutnya les privat dan berbayar. Tapi tidak di zaman itu. Kami mengenangnya dengan istilah “belajar bersama di rumah Pak Dul”.

Tak ada rumah bertingkat saat itu. Tapi entah mendapat ide dari mana, Pak Dul mengubah ruang antara atap rumah dengan plafonnya menjadi sebuah mezzanine. Ruang panggung. Di sanalah kami belajar entah sore atau malam hari. Dan di sanalah Pak Dul, dengan raut muka yang bungah berseri, dan senyum yang selalu terkulum, dengan telaten mengajari kami tentang ilmu apa saja. Rumah Pak Dul sudah menjadi seperti rumah kami sendiri. Seringkali kami belajar sampai terlelap, tahu-tahu hari sudah pagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di lain waktu, Pak Dul mengajak kami ke sawah. Belakangan saya tahu, madrasah ibtidaiyah kami memiliki sebidang sawah. Sawah wakaf dari orang berpunya di desa kami. Di sawah itulah, kami diajak menanam padi, menyiangi rumput, meng-gropyok tikus, dan memanen padi. Tentu saja, di saat-saat seperti itu sekolah diliburkan. Sebagai kanak-kanak, saya selalu senang sekolah diliburkan, dan bermain-main di sawah. Belakangan saya tahu, kegiatan di sawah itu bagian dari pembelajaran, dan hasil dari sawah itu digunakan untuk membiayai kegiatan sekolah.

Tinggalkan Balasan