Salah satu mata pelajaran yang diampunya adalah Tarikh, Sejarah Islam. Tidak seperti guru yang mengajar sejarah pada umumnya, yang menerangkan peristiwa-peristiwa historis secara kronologis berdasarkan buku teks, yang sangat kronikal dan begitu membosankan. Pak Syaekhoni datang ke ruang-ruang kelas kami menawarkan kesegaran. Setiap babakan dalam tarikh dihadirkan melalui dongeng. Disampaikan dengan cara mendongeng.
Bukan sekadar mendongeng. Belakangan saya menyadari, ia bukan pendongeng yang biasa. Sebab, ruang kelas tempat kami belajar seakan mampu ia sulap menjadi panggung teater, dan di sana ia sekaligus bisa berperan sebagai sutradara, narator, dan aktor-aktor sejarah dengan segala dialog dan acting-nya. Bukan, bukan sekadar mendongeng dengan cara bermolonog, misalnya. Sebab, di atas panggung tetater itu ia mampu memerankan segala peran.

Ia, misalnya, melalui narasinya, mampu menghadirkan suasana-suasana tiap babak dalam sejarah Islam secara intim. Hingga, seakan, kami murid-muridnya sedang berada di padang pasir, entah di Mekkah atau Madinah atau Jazirah Arab, menyaksikan peperangan demi peperangan yang terjadi antara orang-orang beriman dan kaum kafir.
Ia, misalnya, mampu menggambarkan sosok Umar ibn Khattab atau kemudian Khalid ibn Walid, dan kemudian memerankan diri sebagai Umar ibn Khattab atau Khalid ibn Walid dengan sama baiknya. Termasuk, bagaimana gaya tokoh-tokoh itu mengendarai unta atau menghela kuda atau menyabetkan pedang atau memerintah pasukan. Semua properti panggung teater itu seakan hadir sepenuhnya mememuhi imajinasi kami.
