Biasanya, ketika Pak Syaekhoni sedang mendongeng di satu kelas, tak lama kemudian akan berubah menjadi pertunjukan teater yang terbuka untuk umum. Pelajaran di kelas-kelas lain akan segera diakhiri, dan murid-murid dari kelas lain itu akan segera berlarian, meriung atau merubung kelas di mana Pak Syaekhoni sedang mengajar, sedang mendongeng. Bahkan, sesekali, guru-guru kelas lain juga terlihat di antara murid-murid yang sedang khusyuk menikmati dongeng Pak Syaekhoni. Seringkali, ketika Pak Syaekhoni sudah mengakhiri dongengnya, kami tak segera beranjak dari ruang kelas karena dongeng-dongengnya masih memenuhi imajinasi kami.
Saya tak tahu dari mana Pak Syaekhoni, yang lulusan sekolah guru itu, belajar mendongeng. Saya juga tak tahu apakah ketika itu mendongeng merupakan salah satu dari metode pengajaran yang diatur dalam kurikulum. Yang saya rasakan, guru-guru saya ketika itu memiliki keleluasaan penuh soal cara bagaimana memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak didik. Salah satu yang teringat, sesekali tak ada pelajaran di ruang kelas. Murid-murid oleh para guru diajak ke sawah, entah untuk berburu tikus-tikus sawah, menanam padi, menyiangi rumput liar, atau memanen padi dari sawah yang memang milik sekolah. Jauh kemudian, model pendidikan seperti ini menjadi barang mewah.

Mungkin, mengajar dengan cara mendongeng yang dilakukan Pak Syaekhoni ketika itu merupakan sebuah improvisasi. Sebab, guru-guru lain tak melakukan hal yang sama. Tapi, darinya akhirnya saya tumbuh menjadi seseorang yang mencintai sejarah. Setidaknya, meskipun tak pernah belajar di jurusan sejarah, saya begitu menikmati membaca buku-buku sejarah, sejarah siapa saja, sejarah apa saja, sejarah yang membuka cakrawala.
Memang itulah tugas guru yang sebenarnya: membuka cakrawala anak-anak didiknya. Tanpa guru, dunia akan gulita.
