Kenapa nilai-nilai dan produk-produk budaya, tradisi, dan kearifan lokal Nusantara ini harus digusur? Jawabannya hanya satu: gerakan mereka tak akan pernah sukses sepanjang masyarakat Indonesia masih bersetia dengan nilai-nilai dan produk-produk budaya, tradisi, dan kearifan lokalnya. Dan mereka tahu itu. Nilai-nilai dan produk-produk budaya, tradisi, dan kearifan Nusantara memang tidak pernah memberi tempat bagi tumbuh-kembangnya paham-paham radikal, seperti yang diusung oleh kelompok-kelompok radikalis dari agama mana pun, termasuk radikalisme Islam. Sementara, radikalisme Islam dapat tumbuh subur di kawasan Timur Tengah. Maka, jika budaya Indonesia bisa diubah menjadi mirip-mirip budaya Timur Tengah, paham mereka bisa tumbuh subur di sini.
Karena itu, kelompok-kelompok radikalis ini selalu menggaungkan perang opini. Mereka selalu menggiring dan membentuk opini bahwa yang bukan berasal dari sono (minhum) sebagai tidak Islami. Di sini, kaum santri selalu menjadi benteng pertahanan terakhir dan paling tangguh. Kita ingat, itulah kenapa sebagai cendekiawan muslim cemerlang, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada dekade 1980-1990an tak henti-hentinya menggulirkan isu pribumisasi Islam.

Kenapa Gus Dur menggulirkan gerakan pribumisasi Islam? Islam, sebagai agama universal dan rahmatan lil alamin, harus diakui tidak lahir di bumi Nusantara. Ia datang dari negeri Arab. Berkaca pada metode dakwah Wali Songo, yang diajarkan, yang didakwahkan, adalah ajaran agama Islamnya, yang kebetulan berasal dari negeri Arab. Bukan budaya Arabnya. Itulah yang mendorong Gus Dur menggulirkan pemikiran pribumisasi Islam. Kutipan Gus Dur di awal tulisan ini menggambarkan apa yang dimaksud dengan pribumisasi Islam.
Dengan demikian, menjadikan wayang sebagai media dakwah seperti yang dilakukan Wali Songo adalah bagian dari Islamisasi atau dalam istilah Gus Dur pribumisasi Islam. Membumikan Islam. Tapi, menyebut klepon yang jelas dibuat dari bahan-bahan yang memang halal sebagai tidak Islami dan diperhadapkan dengan kurma sebagai yang Islami, jelas itu bagian dari “Arabisasi”.
