Gus Kikin dan duniasantri 

Momen itu saya catat: jarang-jarang seorang kiai begitu antusias berbicara tentang pentingnya riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tapi momen ketiga, momen yang paling membuat saya deg-degan, justru terjadi beberapa waktu sebelum kegiatan duniasantri di Tebuireng dimulai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kegiatan jejaring duniasantri yang berskala besar itu tentu membutuhkan biaya yang besar pula. Maka, proposal sponsorship dan partnership disebar ke banyak instansi dan institusi swasta. E la dalah, ada satu perusahaan yang mau menjadi sponsor tapi dengan satu syarat: di proposal harus ada nama KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Pengasuh Tebuireng lengkap dengan tanda tangannya!

Diberi izin mengadakan kegiatan di Tebuireng saja sudah berkah tersendiri. Ini malah disuruh meminta tanda tangan di proposal sponsorship. Ini tak lazim. Ini cangkolan, kata orang Madura. Ini suul adab, dalam bahasa santri.

Tapi kami harus mencoba demi terlaksananya semua agenda. Maka, saya harus berjalan melipir dimulai dari lapis paling luar, seperti teori mengupas bawang. (Saat itu belum ada yang menyebut gaji pengupas bawang Rp 700 ribu per kilogram).

Saya, seorang diri mewakili duniasantri, akhirnya sowan kepada Gus Kikin. Saya diantar sesepuh Tebuireng, KH Riza Yusuf Hasyim dan beberapa santri. Tentu saja, dengan terbata-bata, saya menyampaikan tujuan sowan. Saya sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Tapi, alhamdulilah, Gus Kikin tersenyum, dan berkenan membubuhkan tanda tangannya, diiringi doa. Plong. Lega. Terharu.

Dan inilah untuk pertama kalinya, dalam dokumen jejaring duniasantri, tertera tanda tangan seorang kiai. Dokumen itu masih saya simpan rapi, semoga abadi.

***

Kali ini, kami ke Jombang sejatinya mau menjadi “Romli”, rombongan liar yang memadati arena Muktamar. Kami berempat: Jamal D Rahman bersama istri, Mahwi Air Tawar, dan saya.

Tapi entah kenapa, tempat yang kami jujuk justru Tebuireng. Padahal, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dilaksanakan di Tambakberas, di Pesantren Bahrul Ulum, berjarak sekitar 30 menitan.

Dan, tempat menginap kami pun di seberang makbarah masyayikh Tebuireng, hanya dipisahkan pagar tembok dan gang kecil. Suasana ziarah makam melingkupi penginapan kami. Kami pun merasa lebih sebagai peziarah ketimbang “muktamirin”.

Tinggalkan Balasan