Gus Kikin dan duniasantri 

Selama hampir sepekan, kami justru lebih sering berada di sekitaran Tebuireng ketimbang di arena Muktamar. Padahal, meskipun “Romli”, kami punya beberapa agenda di arena Muktamar. Tapi semua agenda itu “berantakan” karena, tanpa diduga, kami ketemu banyak orang di lingkungan Tebuireng. Kami seperti terkondisikan untuk menyambut kedatangan Gus Kikin sepulang dari arena Muktamar. Tapi hal tersebut menjadi berkah yang tak terduga.

Usai penutupan Muktamar, Gus Kikin pulang ke Tebuireng dengan amanah baru: Ketua Umum PBNU. Pada momen penyambutan, Gus Kikin dikalungi tasbih dan diserahi tongkat peninggalan KH Hasyim Asy’ari. Sebuah simbol kepemimpinan baru di tubuh NU. Saya mendengar penyambutan itu dari balik pagar tembok.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bahwa Gus Kikin memiliki antusiasme besar terhadap riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, seperti kesan yang saya tangkap dalan jamuan di Ndalem Kesepuhan, juga tergambar dari pidato pertamanya sebagai Ketua Umum PBNU. Saat memberi sambutan pada penutupan Muktamar, Gus Kikin menyebut Qanun Asasi akan menjadi panduan pergerakan NU ke depan.

Kitab Qanun Asasi ditulis Mbah Hasyim pada 1926 dan rampung pada 1928. Di masa-masa awal, NU berpandu pada Qanun Asasi itu. “Itulah kenapa NU berkembang pesat dan sangat disegani,” kata Gus Kikin.

Namun, menurut Gus Kikin, sejak 1952, saat NU menjadi partai politik, Qanun Asasi tak lagi digunakan sebagai panduan organisasi. Baru pada 1984, saat kembali ke khittah 1926, NU kembali menggunakan Qanun Asasi. Sayangnya, saat itu keberadaan kitab Qanun Asasi terpisah-pisah dan baru ditemukan bab mukadimahnya saja.

Rupanya, sejak memimpin Tebuireng, Gus Kikin menggalakkan riset dan pencarian dokumen-dokumen yang hilang. “Alhamdulillah, setelah tiga tahun penelusuran, kami menemukan semua bab yang terpisah, dari bab satu sampai empat. Sudah lengkap,” ujar Gus Kikin.

Karena itu, sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin bertekad kembali menjadikan Qanun Asasi sebagai panduan gerakan NU ke depan. Dengan Qanun Asasi, Gus Kikin berniat mengembalikan masa keemasan NU.

“Di abad keduanya ini, NU kembali menggunakan Qanun Asasi secara utuh. Mudah-mudahan bisa seperti awal berdirinya dulu,” ujar Gus Kikin.

Mendengar pernyataan Gus Kikin tersebut adem rasanya. NU memasuki abad keduanya dengan awal yang baru: sepenuhnya berpandu pada Qanun Asasi secara utuh. Itulah, mungkin, makna tersirat dari penyerahan tasbih dan tongkat peninggalan Mbah Hasyim kepada Gus Kikin.

Di Tebuireng, kami dari jejaring duniasantri kembali menyaksikan momen istimewa tersebut.

Tinggalkan Balasan