Jika Nabi Hadir di Tengah Indonesia Hari Ini

Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, umat Islam kembali menghidupkan ingatan tentang sosok yang membawa perubahan besar dalam sejarah manusia. Selawat dilantunkan, pengajian digelar, dan kisah perjuangan Rasulullah SAW disampaikan dari masjid hingga musala.

Namun, ada pertanyaan yang mungkin lebih penting daripada sekadar merayakan Maulid: jika Nabi Muhammad SAW hadir di tengah Indonesia hari ini, apa yang pertama kali akan beliau lihat?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan tersebut bukan untuk berandai-andai tentang kehadiran Nabi secara fisik. Ia adalah cara reflektif untuk mengukur kehidupan kita dengan nilai-nilai kenabian.

Indonesia hari ini bukan negeri yang tanpa kemajuan. Infrastruktur berkembang, teknologi semakin canggih, dan ruang digital memungkinkan manusia terhubung tanpa batas. Tetapi di balik kemajuan itu, kita masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan, kesenjangan, korupsi, konflik sosial, ujaran kebencian, intoleransi, serta krisis kepercayaan terhadap berbagai institusi.

Di sinilah Maulid Nabi menemukan relevansinya. Maulid bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia seharusnya menjadi momentum untuk bertanya apakah nilai-nilai yang dibawa Rasulullah masih hidup dalam perilaku kita.

Membela Manusia

Nabi Muhammad SAW datang bukan hanya membawa ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Risalahnya juga mengandung misi kemanusiaan. Al-Qur’an menggambarkan Nabi sebagai rahmat bagi semesta alam (QS Al-Anbiya: 107).

Rahmat itu mestinya terlihat dalam kehidupan sosial. Yang kuat tidak menindas yang lemah. Yang kaya tidak menutup mata terhadap kemiskinan. Yang berkuasa tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Dalam konteks inilah pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi penting. Dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), Gus Dur menempatkan kemanusiaan, keadilan, kebebasan, dan kehidupan demokratis sebagai bagian penting dari keberislaman. Islam tidak seharusnya dipakai untuk memaksakan kehendak, melainkan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan