Ilmu, dalam pandangannya, tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Ia harus diteruskan, diajarkan, dan memberi manfaat. Ketika ilmu diwariskan kepada orang lain, di situlah ia menjadi bagian dari amal jariyah.
Pesan itu sekaligus menjadi gambaran tentang arah kepemimpinan yang ingin ia bangun: menghubungkan pesantren, keilmuan, khidmah, dan masyarakat.

***
Di tengah euforia kepulangan tersebut, ada pula pesan yang mengingatkan bahwa kepemimpinan baru tidak boleh berjalan sendiri. Gus Irfan Yusuf, Menteri Haji, meminta seluruh keluarga dan santri Tebuireng memberikan dukungan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan atau kegagalan kepemimpinan Gus Kikin nantinya juga akan membawa nama Tebuireng.
“Kalau kita gagal yang dilihat Tebuireng,” ucap Gus Irfan, yang merupakan adik Gus Riza. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa amanah Gus Kikin kini bukan hanya milik dirinya. Ada nama pesantren, keluarga, ulama, dan warga Nahdliyin yang turut melekat di dalamnya.
Beberapa saat sebelumnya, di Tambakberas, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menutup Muktamar ke-35 NU.
Kehadiran Presiden memberikan penanda tersendiri bagi rangkaian Muktamar kali ini. Prabowo menjadi presiden pertama yang hadir dalam pembukaan rangkaian Muktamar pada Kamis, 27 Agustus 2026, sekaligus menghadiri penutupannya pada Senin 31 Agustus 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo berbicara tentang Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 300 juta jiwa. Besarnya negara, menurutnya, membutuhkan kerja sama banyak pihak untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Di titik itulah ia menempatkan NU sebagai salah satu kekuatan penting bangsa.
“Negara, bangsa, dan umat menunggu darma bakti Nahdlatul Ulama di hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun yang akan datang,” kata Prabowo.
Kalimat itu menemukan resonansinya dalam pesan yang disampaikan Gus Kikin beberapa jam kemudian di Tebuireng: ilmu harus diamalkan, organisasi harus menjadi ruang khidmah, dan amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Muktamar memang telah ditutup. Kentongan yang dibunyikan Presiden Prabowo menandai berakhirnya forum tertinggi NU tersebut. Namun bagi Gus Kikin, perjalanan justru baru dimulai.
Dari Tambakberas, Gus Kikin membawa mandat baru. Ke Tebuireng, ia pulang membawa pesan lama: warisan Hadratussyaikh, adab, sanad keilmuan, persatuan, dan khidmah. Kini, amanah itu berada di pundaknya.
Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian: sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan para ulama dapat diterjemahkan menjadi gerak nyata bagi NU, pesantren, umat, dan bangsa.
