Gus Kikin dan Jalan Pulang NU

Di tengah pembicaraan tentang masa depan NU itu, Tambakberas juga menjadi bagian penting dari cerita.

Gus Kikin menyebut keberkahan Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak dapat dilepaskan dari perjuangan KH Wahab Chasbullah. Ia berharap hubungan dengan tempat tersebut terus terjalin dan berbagai kegiatan NU dapat kembali digelar di sana.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Menjelang siang, suasana berpindah ke Tebuireng. Sekitar pukul 12.30 WIB, Gus Kikin tiba di Pondok Pesantren Tebuireng. Ribuan santri dan dzurriyah telah menunggunya. Kepulangan itu terasa berbeda. Ia datang bukan sekadar sebagai pengasuh pesantren, tetapi sebagai Ketua Umum PBNU yang baru terpilih.

Halaman pondok dipenuhi suasana haru dan kebanggaan. Di depan Ndalem Kesepuhan, sebuah prosesi sederhana menyimpan makna yang dalam. Gus Riza Yusuf, cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, menyerahkan tongkat dan tasbih peninggalan sang pendiri NU kepada Gus Kikin.

Benda-benda tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah. Di tengah pergantian kepemimpinan NU, tongkat dan tasbih itu seolah menjadi pengingat tentang amanah yang kini berada di pundaknya: menjaga dan meneruskan perjuangan yang telah dibangun Hadratussyaikh.

Setelah menerima peninggalan tersebut, Gus Kikin menuju makam Tebuireng. Tahlil dibacakan. Setelah itu, ia kembali berdiri di hadapan para santri. Kali ini, pesan yang disampaikan lebih dekat dengan kehidupan pesantren.

Gus Kikin mengaku merasakan beban setelah menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Proses panjang selama Muktamar telah mengantarkannya pada posisi tersebut, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu bukan sekadar kehormatan.

“Ada rasa beban sebenarnya karena ini amanah yang harus dijalankan,” ujarnya.

Kepada para santri, ia berpesan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar di pesantren.

“Ambillah pelajaran di pondok untuk ilmu-ilmu yang diajarkan Hadratussyaikh karena itu bersanad langsung dengan Rasulullah,” katanya.

Bagi Gus Kikin, pesantren dan NU memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Pesantren menjadi tempat mempelajari warisan keilmuan para ulama, sementara NU menjadi ruang untuk mengamalkan ilmu tersebut di tengah masyarakat.

“Di NU kita berkhidmat. Pondok mempelajari ilmu tentang warisan Hadratussyaikh, NU tempat mengamalkan ilmunya supaya ilmu kita bisa bermanfaat diajarkan kepada masyarakat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan