Gus Muwafiq Berpuisi dan Bernyanyi di Festival Dunia Santri 

Tak hanya ceramah-ceramahnya yang membius. Gus Mufawiq alias KH Ahmad Muwafiq ternyata punya kemampuan menyihir ketika berpuisi dan bernyanyi.

Itulah performance paling membetot perhatian di acara Malam Sastra Santri yang digelar jejaring duniasantri (JDS) di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/7/2026) malam. Sebagai tuan rumah, Gus Muwafiq tampil terakhir setelah para sastrawan dan budayawan beraksi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mula-mula Gus Muwafiq berpuisi. Puisi pertama yang dibacanya adalah Tanah Air Mata, karya Sutardji Calzoum Bachri. Ketika membaca puisi yang diiringi petikan gitar, Gus Muwafiq begitu menjiwai. Begitu memukau, laiknya penyair kawakan, dengan intonasi suara rendah, lalu melengking.

Begitu juga ketika membaca puisi kedua, Sajak Sebatang Lisong. Gus Muwafiq bahkan seakan menghadirkan sosok WS Rendra, sang pengarang puisi. Dengan suaranya yang berat dan serak, dengan berbisik atau berteriak lantang, Gus Muwafiq mampu menghadirkan sosok si Burung Merak ke atas panggung. Begitu menyihir.

Sebagian penonton mengira Gus Muwafiq akan mengakhiri acara sengan doa ketika bait terakhir sajak WS Rendra tersebut usai dibacakan. Ternyata malam makin gayeng, saat Muwafiq beralih dari berpuisi ke bernyanyi, diiringi oleh duo keyboard dan gitar. Lagu pertama yang dinyanyikannya adalah Nyanyian Jiwa dari album Kantata Takwa yang biasa dinyanyikan Iwan Fals.

“Jangan keburu pulang. Belum jam dua belas. Santri itu hidupnya, kan, malam. Kita akan akhiri dengan doa, tapi nanti jam tiga,” canda Gus Muwafiq usai menyanyikan lagu Nyanyian Jiwa. Penonton pun tertawa sembari bertepuk tangan. Gus Muwafiq pun kemudian membawakan lagu Maaf Cintaku karya Iwan Fals.

Dan, benar juga, Gus Muwafiq masih terus membawakan lagu-lagunya Iwan Fals, salah satunya adalah Bongkar. Bahkan Gus Muwafiq juga piawai bermain gitar sendiri saat bernyanyi.

Malam itu benar-benar menjadi malam pertunjukan Gus Muwafiq bukan sebagai seorang kiai atau dai, tapi sebagai seorang seniman. Sebab, Gus Muwafiq masih terus bermain gitar dan bernyanyi banyak lagu, termasuk beberapa di antaranya lagu dangdut. Ia begitu menghibur para santri yang hadir, juga para seniman dan budayawan yang menjadi tetamu.

Sekitar pukul 02.00 WIB, akhirnya Gus Muwafiq menutup rangkaian kegiatan JDS selama dua hari di pesantrennya dengan doa yang khusyuk. Doa dari seorang kiai kepada duniasantri.

Tinggalkan Balasan