Hadis di Mata Bapak Orientalisme Ignaz Goldziher

Adapun, tokoh-tokoh Orientalis awal yang melakukan kajian hadis dimulai oleh Ignaz Goldziher, kemudian diikuti oleh Joseph Schacht dan disusul oleh GH A Juynboll dan Harld Motzki. Mereka semua berpendapat bahwa hadis yang diyakini sahih oleh umat Islam dikatakan sebagai hadis-hadis yang bermasalah. Pendapat ini didasarkan hasil kajian yang dilakukan dengan teori yang mereka ciptakan sendiri.

Latar Goldziher

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tulisan ini akan mengulas secara khusus tentang pemikiran hadis dari Ignaz Goldziher. Namun, sebelum jauh berbicara soal pemikiranya, kita perlu tahu latar belakang kehidupan Igzas Goldziher. Ia dikenal sebagai Bapak Orientalis Dunia, sebab Goldziher-lah yang pertama kali melakukan kajian tentang ketimuran.

Ia lahir sebagai keturunan Yahudi yang terhormat dan memiliki pengaruh yang cukup kuat. Ia lahir sekitar tahun 1850 M, tepatnya pada tanggal 22 Juni di kota Szekesfehervar. Sejak kecil Goldziher tumbuh dalam tradisi keluarga yang mengapresiasi ilmu pengetahuan. Hal ini kelak membentuk kepribadian Goldziher menjadi orang yang memiliki semangat dalam mengkaji pengetahuan baru, khususnya literatur Yahudi dan Islam.

Perjalanan intlektualnya sangat panjang. Secara singkat, ia berhasil menjadi seorang Ilmuwan dan Profesor Keisalaman di Universitas Budapest, Berlin dan Lieden, Belanda. Awalnya ia tertarik pada studi agama Yahudi dan agama Semantik. Namun minatnya semakin mendalam untuk memperdalam studi Islam.

Minatnya pada kajian Islam inilah yang kemudian membawa Goldziher terbang ke Timur Tengah pada tahun 1873. Ia mengambil studi Islam di kota Damaskus dan Kairo. Di kedua kota ini Goldziher memperdalam tentang keislaman, khususnya dalam kajian hadis. Goldziher mewariskan banyak karya ilmiah. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Muhammedanische Studien (Studi Pengikut Muhammad). Buku ini berisi tentang sejarah Islam, khususnya mengenai hadis.

Pandangan Goldziher

Dalam pandangan Ignaz Goldziher, hadis dipersamakan dengan tale atau hikayat, dongeng, cerita, dan kisah. Hadis juga dimaknai sebagai communication (komunikasi, kabar, pemberitaan, informasi). Secara eksplisit hadis berarti kabar atau pemberitaan yang berkaitan dengan aspek keagamaan ataupun persoalan hidup masyarakat pada waktu itu. Goldziher menganggap bahwa hadis bukan hanya dokumen sejarah masa lalu. Namun, lebih dari itu, menjadi respon reflektif pada awal perkembangan Islam kemudian membentuk sesuatu yang sistematis dan memiliki kekuatan hukum di dalamnya.

Goldziher dengan berani menyatakan penolakannya terhadap hadis yang dipahami oleh ulama Islam. Seperti yang kita ketahui, bahwa hadis dalam pandangan ulama Islam berarti perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan Nabi atas tindakan dari para sahabatnya (taqrir). Sementara, bagi Goldziher, hadis tidak lebih dari produk sejarah, politik, dan budaya pada masa lampau.

Tinggalkan Balasan