Angin bergerak ke selatan
Seorang lelaki berbaju hijau
bermata hijau, berdarah hijau
melangkah di ekornya
saban angin berhenti
tubuh lelaki itu tersungkur
napasnya mungkur
Angin pergi ke utara
mencari jejak pengembara
lelaki itu kini menumpang ekornya
saban angin itu membuka rahasia
lelaki itu riang gembira

Angin melaju ke barat
menikmati senja yang sebentar lagi berkarat
ia hendak mengantar burung-burung tidur
dan lelaki itu masih bersamanya
memikul rahasia-rahasia
Setelah maghrib, angin pulang ke timur
diantar lelaki itu
sambil memikul rahasia
pundaknya yang rapuh
semakin lepuh
di kakinya yang menjerit
ada janji-janji yang harus ditepati
ada ikrar yang harus diantar pulang
Lampung, 29 Mei 2021.
HAKIKAT HUJAN
Kenapa angin membelaimu?
Kenapa awan memayungimu?
Karena mereka ingin mengingatkan,
Tuhan sayang padamu.
Meski angin itu berwujud topan, meski awan itu menebar hujan.
Jiwamu terlalu sering dipanggang bara
Maka Tuhan mengguyurmu, dengan air dan udara
Yang dingin.
Kenapa matahari memeras peluhmu?
Kenapa matahari membakar darahmu?
Karena dia ingin mengingatkan,
Tuhan sayang padamu.
Meski matahari itu api.
Hatimu masih beku membatu
Maka Tuhan meleburnya dengan kehangatan
Cahaya matahari.
Lampung, April 2019.
ilustrasi: affandi, badai pasti berlalu.
