Hantu Padang, Cerita-cerita Melawan Lupa

Diskusi mengalir membahas bagaimana karya ini menggambarkan “kerapuhan manusia” yang terus dihadapkan pada pilihan antara melupakan atau mengingat. Agus R Sardjono menjelaskan, bahwa bagi penyair sejati, ingatan bukan sekadar nostalgia, melainkan perlawanan terhadap lupa. Dalam puisi-puisi Esha, kenangan menjadi medan pertempuran batin —antara keinginan untuk move on dan kebutuhan untuk menjaga jati diri yang berakar pada masa lalu.

Para peserta juga diajak merenungi bagaimana pengalaman perantauan bisa membentuk identitas seseorang, sekaligus menjadi beban emosional yang tak mudah dilepaskan. Kisah tentang “pulang” dalam buku ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pencarian makna rumah di dalam diri. Puisi-puisi seperti “Aku Kembali, Tiar” atau “Ke Padang, Aku Kembali” menjadi simbol dari upaya manusia untuk berdamai dengan masa lalu dan masa kini yang saling bertubrukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menutup acara, moderator Sinta Debeturu menekankan bahwa Hantu Padang bukan hanya tentang Padang atau Esha Tegar Putra, melainkan tentang setiap manusia yang pernah merantau —baik secara fisik maupun batin. Setiap pembaca dapat menemukan dirinya di antara bait-bait itu, di antara rasa rindu, kehilangan, dan harapan untuk akhirnya bisa pulang, meski hanya lewat kenangan.

Tinggalkan Balasan