“Jika kamu melihat ada orang miskin di negara orang Islam, maka ketahuilah ada orang kaya yang telah mengambil haknya.”
Dan betapa tepatnya kata itu—seolah beliau sedang bicara langsung kepada kita. Karena, faktanya: setiap rupiah korupsi memproduksi kemiskinan baru.

Bukti bahwa Indonesia tertinggal bukan karena gagal berdoa, tetapi karena gagal jujur. Anggaran untuk mencerdaskan bangsa bocor, anggaran untuk memakmurkan desa disunat, anggaran kesehatan dipreteli.
Dan lebih menyakitkan, nilai korupsi proyek sering melebihi biaya membangun fasilitas publik: kadang “fee gelap” lebih besar daripada harga semen.
Bangsa yang ingin maju harus mengutamakan pendidikan. Tapi bagaimana kita hendak berlari jika uang untuk membangun perpustakaan malah membangun kolam renang pejabat? Bagaimana generasi muda hendak cerdas jika anggaran laptop sekolah tersesat di rekening pribadi seseorang yang bahkan tidak bisa mematikan capslock?
Fenomena paling pahit: program digitalisasi sekolah berkali-kali bocor—bukan gagal teknologi, tapi gagal moralitas.
Banyak sekolah roboh bukan karena badai, tapi karena semennya tinggal setengah dan besinya tinggal doa. Banyak guru honorer hidup tersendat bukan karena tidak kompeten, tapi karena gajinya kalah cepat dengan tangan-tangan rakus di meja anggaran.
Data umum menunjukkan: kebocoran anggaran pendidikan di beberapa daerah mencapai 20–40%. Itu bukan kecelakaan—itu perencanaan kriminal.
Para koruptor tak pernah sadar bahwa setiap rupiah haram yang mereka ambil adalah hak pasien yang tak bisa berobat, hak murid yang harus belajar di lantai, hak petani yang gagal panen, dan hak rakyat kecil yang tak punya suara. Mereka tersenyum saat ditangkap, seakan-akan korupsi hanyalah salah kostum pesta.
