“Setiap tahun kami menyelenggarakan Haul Gus Dur berdasarkan tanggal Hijriyah. Ini untuk mempertahankan budaya haul ulama,” ungkap Kiai Salam.
Alumni Pesantren Al-Falah Ploso ini menjelaskan, tujuan haul Gus Dur ini untuk mengingatkan sejarah perjuangan Gus Dur. Terutama jejak perjalanannya sebagai santri, menjadi intelektual, dan dilanjutkan dengan menjadi pemikir Islam serta tokoh politik.

“Gus Dur ini pembawa lokomotif pembaruan di Nahdlatul Ulama. Menjadi Ketua PBNU dan jadi andalan dalam polemik masalah ketidakadilan. Ini patut kita kenang dan kita lanjutkan perjuangannya, terutama generasi muda. Perjuangan politik yang dengan kepiwaiannya, kecerdasannya, dan ilmunya mampu mencapai puncak karier sebagai Presiden tanpa mengandalkan politik uang. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Gus Dur,” tutur Kiai Salam.
