Yang distingsi dari haul ini, pihak keluarga menggandeng kalangan pesantren untuk ikut kontribusi mensukseskan dan napak tilas perjuangan Gus Dur. Adapun, pesantren-pesantren yang dipilih, antara lain Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo, Pesantren Krapyak Yogyakarta, Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Darussalamah Bandar Lampung, dan Pesantren Qomarul Huda Bagu NTB.
Pesantren-pesantren tersebut merupakan tempat bersejarah bagi Gus Dur dalam berdialektika mereformula reposisi khittah NU, selama jadi Ketua Umum PBNU, dan tempat diskusi kritis menjawab permasalahan kontemporer (demokrasi, Pancasila, hingga kesetaraan gender).

Acara haul kemudian bergulir dengan pembicara KH Yahya Cholil Staquf. Ketua Umum PBNU ini menjelaskan benang merah pembaharuan dari figur Gus Dur ialah visi peradaban kemanusiaan universal. Gus Dur sepakat prinsip kemanusiaan bagaimanapun harus dijaga, jangan sampai tertindas apalagi terbunuh secara serampangan. Terobosan ini sangat logis dan konstruktif, muaranya akan terbangun kekuatan strategis peradaban yang beradab dalam kehidupan bersama berbasis kemanusiaan. Inilah masterpiece produk pemikiran Gus Dur.
Gus Yahya mendedah bahwa Gus Dur mampu mentransformasikan pola pikir kepada orang-orang–khususnya warga NU. Testimoni dari pada tokoh masyarakat hingga tokoh lintas iman sangat afirmatif menyebut Gus Dur adalah tokoh bangsa yang sangat bermanfaat sekaligus berpengaruh. Tokoh masyarakat lintas iman yang melakukan testimoni, antara lain Budiman Sujarmiko, Taufik Razen, Mohammad Sobary, Zafrullah Ahmad Pontoh, Frans Magnis, Budi Tanuwibowo, Gun Retno, dan Dewi Kanti.
Rundown acara haul berikutnya yakni persembahan monolog Inayah Wahid. Penampilan putri bungsu Gus Dur tersebut memancing gelak tawa karena bernada satire. Semua persoalan yang hinggap di keseharian kita di ramu dan di kritik secara halus.
