Forum Silaturrahim Syubbanul Ma’ahid (FS2M) Jabodetabek kembali menyelenggarakan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo. Haul ini sekaligus sebagai ajang silaturahim antara santri, alumni, dan para masyayikh. Kegiatan ini digelar di Pesantren Az-Ziyadah, Klender, Jakarta Timur, pada Kamis (13/03/2026).
Sebagai agenda tahunan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai yang ditanamkan oleh para ulama Lirboyo kepada segenap HIMASAL (Himpunan Santri dan Alumni Lirboyo) Jabodetabek.

Dalam kesempatan itu, KH Ahmad Nawawi Sadili, yang akrab disapa Abi Nawawi, menyampaikan sejumlah nasihat kepada para santri dan alumni agar tetap menjaga tradisi keilmuan, akhlak, serta hubungan batin dengan para guru.
Sejarah Terbentuknya Forum
Dalam pengantarnya, Abi Nawawi menyinggung sejarah terbentuknya wadah Syubbanul Ma’ahid yang kini menjadi forum silaturahim bagi santri dan alumni Lirboyo di berbagai daerah.
Menurutnya, nama tersebut memiliki latar belakang sejarah yang tidak sederhana. Pada masa KH Mahrus Aly, para santri memiliki organisasi bernama Jam’iyyah Syubbaniyyah yang berkembang di lingkungan pesantren. Jam’iyyah tersebut terbagi menjadi tiga bagian yang menyesuaikan dengan wilayah asal para santri. Sementara wilayah Jabodetabek pada masa itu dikenal sebagai bagian dari Syubbaniyyah II.
Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Forum Silaturrahim Syubbanul Ma’ahid, yakni sebagai bentuk tafa’ulan kepada KH. Mahrus Aly.
Abi Nawawi juga menjelaskan bahwa nama “Syubbanul Ma’ahid” yang digunakan hingga saat ini lahir melalui proses yang penuh pertimbangan.
Ketika para senior hendak menentukan nama organisasi di Pesantren HM Lirboyo, mereka tidak langsung memutuskannya secara sepihak. Para senior terlebih dahulu berwudu, kemudian melakukan undian (qur’ah) dari beberapa nama yang diusulkan.
Di antara nama-nama tersebut terdapat Syubbaniyyah (usulan KH Fadholi), Fityatun Amanu, yang diambil dari kisah para pemuda beriman dalam Surat al-Kahfi (usulan KH Abdurrahman), dan Syubbanul Ma’ahid (usulan KH Ahmad Nawawi Sadili).
Menariknya, setiap kali undian dilakukan, nama yang keluar justru Syubbanul Ma’ahid. Hal tersebut terjadi berulang hingga tiga kali. Bagi para pendiri, peristiwa itu dipandang sebagai isyarat baik sekaligus bentuk ikhtiar yang disertai doa dan harapan.
Karena itu, nama tersebut kemudian dipilih dan dipertahankan sebagai identitas jam’iyyah hingga sekarang.
Meneladan Para Masyayikh Lirboyo
Dalam kesempatan tersebut, Abi Nawawi juga mengajak para santri dan alumni untuk meneladani kehidupan para masyayikh Lirboyo yang dikenal dengan kesungguhan, tirakat, dan ketekunan dalam mengabdikan diri pada ilmu.
Beliau menyebut sejumlah tokoh penting dalam sejarah Lirboyo, mulai dari KH Abdul Karim, KH Marzuqi Dahlan, hingga KH Mahrus Aly.
Menurut Abi Nawawi, para masyayikh tersebut mewariskan empat nilai utama yang menjadi fondasi pendidikan pesantren Lirboyo. Empat nilai tersebut diringkas dalam singkatan I-A-I-A: Ilmu, Amal, Ikhlas, dan Akhlak.
Pertama adalah ilmu, yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang santri. Sejak masa KH Abdul Karim hingga generasi setelahnya seperti KH Mahrus Aly, perhatian terhadap ilmu selalu menjadi prioritas utama.
Bahkan, tutur Abi Nawawi: “Beliau-beliau ini sangat perhatian terhadap ilmu, termasuk dalam memilih dan memilah menantu. Yang dilihat itu ilmunya.”
Kedua adalah amal, yaitu bagaimana ilmu yang dimiliki benar-benar diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini Abi Nawawi mengutip sebuah syair yang berbunyi:
فعالم بِعِلْمِهِ لم يعملن # معذب من قبل عباد الوثن
وكل من بِغَيْر علم يعْمل # أَعماله مَرْدُودَة لَا تقبل
Artinya: “Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum para penyembah berhala. Sementara orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak oleh Allah Swt.”
Ketiga adalah ikhlas, nilai yang sangat ditekankan oleh para guru pesantren. Para ulama terdahulu mengajarkan ilmu dengan penuh ketulusan tanpa mengharapkan balasan duniawi, termasuk dalam pengabdian kepada masyarakat.
Nilai keempat adalah akhlak, yang menjadi penopang utama keberlangsungan suatu masyarakat.
Dalam hal ini Abi Nawawi mengutip syair bahar basith yang cukup dikenal:
وَإِنَّمَا الْأُمَمُ الأَخْلاقُ مَا بَقِيَتْ
فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا
Artinya: “Suatu bangsa akan tetap bertahan selama akhlaknya masih terjaga. Jika akhlaknya rusak, maka bangsa itu pun akan hancur.
Menjaga Ikatan Guru-Murid
Untuk menegaskan pentingnya hubungan murid dengan guru, Abi Nawawi juga menyampaikan kisah dari kehidupan ulama besar Fudail bin ‘Iyadh.
Dikisahkan bahwa salah satu murid beliau dikenal sangat cerdas, tetapi jarang berkumpul bersama teman-temannya dan juga jarang menghadiri majelis gurunya.
Ketika murid tersebut berada dalam sakaratul maut, Fudail bin ‘Iyadh datang untuk menalqinkan kalimat lā ilāha illallāh. Namun murid tersebut justru menolak untuk mengucapkannya.
Peristiwa itu membuat Fudail bin ‘Iyadh sangat terpukul. Dalam sebuah mimpi, murid tersebut kemudian menjelaskan bahwa selama hidup ia memiliki beberapa kebiasaan buruk: gemar menyebarkan cerita yang memecah hubungan sesama murid, memiliki rasa hasad kepada orang lain, serta jarang mendekat kepada gurunya.
Akibatnya, hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Bahkan karena kegelisahan itu, ia pernah mengikuti saran seorang tabib yang menyuruhnya meminum khamr agar dapat tidur.
Menurut Abi Nawawi, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi para santri. Seorang murid tidak boleh menjauh dari gurunya. Hubungan antara murid dan guru bukan hanya hubungan akademik, tetapi juga hubungan batin yang harus terus dijaga.
Karena itu, para santri dan alumni diingatkan agar tidak sampai memutus keterhubungan dengan guru maupun almamater.
Di akhir pesannya, Abi Nawawi menegaskan bahwa ukuran kesuksesan seorang santri bukanlah semata-mata jabatan, popularitas, atau keluasan ilmu.
Kesuksesan sejati, menurut beliau, adalah ketika seseorang wafat dalam keadaan husnul khatimah dan kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.
“Ilmu yang banyak dan kedudukan yang tinggi tidak akan berarti tanpa akhlak dan keikhlasan.”
Melalui peringatan Haul Masyayikh ini, para santri dan alumni diingatkan kembali bahwa menjadi santri bukan sekadar pengalaman masa lalu. Menjadi santri adalah identitas yang membawa tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh.
Harapannya, para santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga beramal, ikhlas, dan berakhlak, sehingga menjadi santri yang benar-benar diharapkan dan dibanggakan oleh para guru mereka.
