Haurkuning, Pesantrennya Ilmu Alat

Bisa dibilang, materi pokok yang diajarkan di Haurkuning adalah kitab Jurumiyah dan Alfiyah. Setiap tahun, kelas yang diikuti santri akan berganti. Akan tetapi, mata pelajaran Jurumiyah tetap menjadi primadona di setiap tingkatan. Baik itu ibtida, mutawasith, maupun mutaqaddim. Bedanya, semakin tinggi kelas, semakin dalam dan komprehensif pembahasan Jurumiyahnya.

Baru di tahun ketiga (untuk santri baru jenjang Aliyah) dan keempat (untuk santri baru jenjang Tsanawiyah) kitab Alfiyah turut ditambahkan dalam materi pelajaran. Meski begitu, santri yang masih tahun pertama atau kedua pun tetap akrab dengan kitab legendaris tersebut. Hal itu karena Alfiyah sejak awal sudah diperkenalkan pada mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Metode pembelajaran yang digunakan masyayikh di sana mau tak mau membuat santri harus menghafal bait-bait penting yang diambil dari berbagai nazam terkenal. Contohnya, ketika dalam kitab yang dibaca terdapat mubtada’, santri akan diminta untuk menyebutkan dasar hukum mubtada’ yang terdapat dalam berbagai kitab. Seperti Jurumiyah, Nazhmil Maqshud, Imrithi, hingga Alfiyah. Jadi, tidak heran, meski belum ngaji Alfiyah secara langsung, santri Haurkuning sudah hafal di luar kepala 30-40% bait-bait yang terdapat dalam kitab tersebut.

Nalar dan Tatalaran sebagai Fondasi

Selain materi pokok, kegiatan penunjang di luar pembelajaran resmi juga sangat ditekankan. Di antaranya —dan ini yang paling krusial—adalah nalar dan tatalaran. Bisa dikatakan, dua kegiatan inilah yang menjadi ruh dari semua kegiatan pembelajaran lainnya. Orang luar mungkin akan mengira dua istilah yang mirip-mirip ini sama saja, padahal realitanya di Haurkuning, keduanya jelas berbeda.

Yang dimaksud dengan nalar adalah menghafal teks-teks kitab (tahfizhul mutun), baik natsar maupun nazam. Kitab yang dihafalkan meliputi Matan Jurumiyyah, Imrithi, Nadzmil Maqshud, Alfiyyah, Tarshif, Sullam Munauraq, Jauhar Maknun, dan lain-lain. Bagi sansus (santri khusus: santri yang sudah lulus sekolah formal Aliyah/sederajat), ada lagi tambahan hafalan lainnya: Nazham Baiquniyyah dan Rahbiyyah.

Kitab-kitab tersebut dihafalkan sesuai jenjangnya. Idealnya, setiap kelas mempunyai target tertentu yang mesti dicapai. Misalnya, kelas ibtida B (santri baru setingkat Aliyah) diharuskan mengkhatamkan hafalan Jurumiyah, Imrithi, Nazhmil Maqshud, dan sekitar 100 bait Alfiyah dalam jangka satu tahun itu. Memang target ini cukup sulit, apalagi untuk pemula. Namun, meskipun tidak mencapai keseluruhan target, setidaknya dua pertiga atau setengahnya bisa terpenuhi. Kegiatan nalar ini dievaluasi sekurang-kurangnya dua kali dalam seminggu, yakni pada malam Rabu dan Jumat pagi.

Sementara, tatalaran adalah istilah untuk kegiatan mempelajari dasar-dasar ilmu saraf yang dilakukan secara berkelompok. Kelompok-kelompok kecil itu sesekali dibentuk berdasarkan kamar, sesekali berdasarkan kelas. Setiap kelompok dibimbing oleh satu tutor dari kakak kelas yang lebih senior.

Tinggalkan Balasan