HIKAYAT SUATU MALAM
Gelisah menghilangkan dingin setiap wajah. Antara pura-pura dan air mata yang meramaikan hati dengan cinta. Mencari belantara kota dalam lupa. Sebelum bulan meriwayatkan masa lalu pada gelap, adalah kasih sayang yang menghidupkan bayangan pagi. “Dan aku melihat wajah-wajah pulas semalaman.”

Akhirnya, di suatu malam ada kesedihan tiba-tiba. Menulis kenangan pada kartu pos. Dikirimkan pada keabadian di setiap perjalanan. Tetapi, keabadian hanyalah maya di sebuah ponsel. Hilang jika password salah, atau terbaca suka rela setiap tatapan—mengisahkan tentang kepergian.
Masa silam adalah penguasa waktu yang hakiki setelah menggantikan penglihatan yang luka. Ada kabar, purnama jatuh di suatu malam. Memberi salam pada tujuh kembang dalam satu senyuman. Perjalanan membunuh ketakutan di persinggahan. “Aku ingin berlindung dari air mata yang kehilangan.” Sedangkan bahagia adalah wajah kematian.
Kambingan, 21 Februari 2022
SENANDUNG GELOMBANG DI LAUT GILIRAJA
Pada jantung, diriwayatkan sebuah kepulangan dari kembara kota yang terlupakan namanya. Ada riak yang mendatangkan kata-kata, sambil lalu menyembunyikan rasa rindu pada untaian romantisme.
