HIKAYAT SUATU MALAM

Pada sebuah kepergian, ada senandung gelombang yang rinai di dahaga. Saat kegelisahan menjadi batu, kata-kata menjadi langkah, alunan selamat tinggal menjadi doa dan air mata, sembari menggenggam dendam kelam dalam ingatan yang menggila.

Dada yang gelisah diterjang riuh kerinduan. Saat kata-kata telah menitipkan buih pada karang, pada pasir, pada angin. Sembari menunggu puing-puing masa lalu. “Aku mengembara untuk mencari jantung kota.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Laut. Tempat air memeluk kata-kata. Melagukan tempias kesunyian di ujung gelombang. Menanggung seluruh doa yang mengembara hingga mengelabui seluruh nasib.

Karang membisu di suatu gelombang yang sunyi. Membaca bait-bait mantra, pelupa kenangan. Riak yang tak mati, bermuara pada kerinduan, lewat satu kota yang tercipta dari jejak-jejak kata. Saat kembali untuk mengembara ke jalan lain–di kesunyian.

Hatinya adalah arah pulang yang dibiarkan di seberang lautan. Saat alam berubah batas pada siang dan malam. Saat langit tersiksa dengan tangis kepergian, setelah dilenyapkan jarak yang larut dalam pandangan. “Aku adalah doa untuk jalan pulang yang dilupakan.”

Selaksa perempuan yang mati ditelanjangi waktu, kota telah membawa kata-kata bertelanjang di berbagai musim rindu. Padahal, arah pulang tak lagi tertutup kesunyian. Saat dini hari, ia melawan rupa keinginan dan tangisan waktu. “Kesunyian ini hanyalah topan yang menenggelamkan ayat-ayat kematian.”

Giliraja, lautnya bergelora dalam kata-kata yang kembali mengembara. Pamit dengan ombak di ujung air mata. Tempias pada keyakinan tanah kelahiran. Tanpa tanda tanya yang mesti dipermasalahkan. Kata terakhir, “aku pulang ke dalam gelombang Giliraja.”

Tinggalkan Balasan