Giliraja, 28 Mei 2022
MENGEJA DI SURAU ITU

Bismillah, alif menjadi tubuh bagi jiwa. Ba’ mempertemukan batin dengan tangisan, hingga melahirkan wassalam di ruang kepala–tempat merangkai kegaduhan pada masa lalu, hanya membiarkan doa bertamu.
“Siapa yang hendak pergi?” Pertanyaan itu untuk mengundang anak-anak mengaji iqro’, berzikir pada hakikat jiwa dan berdoa dengan harapan sunyi dalam genggaman tangan sepuh. Entah, hanya tersisa doa.
Oh, pengeja di surau itu, biarkan fatihahmu mengembara pada jantung, hati, dan jiwa pemilik suara serak di waktu subuh. Sambil lalu putarkan tasbih dengan kelembutan tahlil. Lalu bertakbirlah, sambut kemenangan!
“Atas nama hijaiyah, tangan sepuh itu terus kucium dengan doa.” Tiba-tiba malam redup dengan air mata.
Jate, 13 Juni 2022.
