HIMNE KEPADA ALKIMIA KATA

Mungkinkah di dadamu,
miliaran hantu mikron
berlari ke barat,
seolah jagat yang dianggap berhala
pelan-pelan runtuh.

Dulu kau tafsirkan dunia ini
seperti lintasan ion,
kau hitung dengan cermat
serpihan semesta
yang saling menggigit
di antara kelahiran dan kematian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rupanya di zamanku,
dinding udara berubah jadi cakar,
menggaruk nadi realitas.
Atom-atom berdesingan,
seperti peluru,
menembus kepala,
membelah bahasa,
menjadi kebisingan porak-poranda.

Di ujung puisi ini
aku pun mengerti,
segala gerak, selalu menanjak,
dan melingkar,
menuju kehampaan.

IKAN-IKAN HERAKLITOS

Sungai berputar,
sebelum mataku
memancarkan kengerian,
sebagai luka bakar
pada siripnya yang kecil.

Entah dari mana,
seekor ikan menelan
cacing api yang hanyut,
lalu bergumam,
“setiap arus adalah
watakku sendiri,
dan menyimpan wajah
lain dari diam.”

Sementara air
mencoba kembali
ke pangkal batu,
tapi tak bisa,
dan dataran
yang menabur hujan,
kini menjadi cerita.

Di bawah arus,
akar dan nadi air
menghanyutkan cemas,
akankah limbah penyakit
dari epidermis sungai
mencelupkan dirinya,
seperti menyelamkan
ingatan tubuhku,
lalu menghitung mimpi
yang tenggelam
di dalamnya.

Tinggalkan Balasan