Sebab yang diketahui mestinya juga sesuatu yang mulia. Dengan kata lain bahwa pengetahuan Tuhan terbatas pada zat-Nya sendiri. Alasan yang lainya, objek ilmu menjadi sebab lahirnya ilmu itu sendiri. Maka, seandainya Tuhan mengetahui perkara kecil dalam arti sesuatu yang kurang sempurna, berarti dapat dikatakan bahwa pengetahuan Tuhan disebabkan oleh sesuatu yang kurang sempurna tersebut. Jika demikian, maka pengetahuan Tuhan masih membutuhkan alam kejadian dan kebinasaan. Sebab, bila kita telaah lebih jauh lagi, justru pendapat di atas sangat bertentangan dengan pendapat yang meyakini bahwa Tuhan tidak bergantung pada makhluknya.
(3) Tentang Keazalian Alam

Menurut Ibnu Rusyd, alam ini bersifat azali dan ada dua hal yang azali, yaitu Tuhan dan alam. Karena, menurutnya, azalinya Tuhan jauh lebih utama dari pada keazalian alam. Ibnu Rusyd mengatakan, jika misalnya alam tidak azali, maka alam ini baru dan oleh sebab itu harus ada yang menciptakanya. Dan yang menciptakannya itu pasti ada yang menciptakannya. Maka, di sini terjadilah tasalsul atau mustahil bisa diterima akal. Jika demikian, maka mustahillah jika alam ini baru.
(4) Tentang Perbuatan Tuhan
Selama ini kita menganggap bahwa semua benda dan kejadian yang terjadi merupakan perbuatan Tuhan, baik itu perkara besar ataupun kecil. Sebaliknya, bagi para filsuf materi itu bersifat kekal. Setiap materi tersebut mengandung berbagai macam jauhar dan setiap jauhar melahirkan jauhar baru. Sehingga dianggap tidak ada peran tuhan di dalamnya.
Sebagaimana pandangan Aristoteles bahwa jauhar menjadi subtansi pertama dari suatu materi yang menjadi sebab lahirnya jauhar kedua tanpa meminta bantuan pada zat di luar dirinya. Ini berarti bahwa sebab dan akibat dari penciptaan terletak pada materi itu sendiri.
Oleh sebab itu, Ibnu Rusyd sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa jika Tuhan menciptakan segala sesuatu yang terjadi di alam ini, maka akibatnya ide tentang adanya sebab akibat itu tidak memiliki arti apa pun. Sebagaimana kita ketahui bahwa sesuatu yang terjadi di alam ini tidak lepas dari hukum kausalitas atau sebab akibat.
(5) Tentang Akal Universal
Ibnu Rusyd sependapat dengan Ibnu Sina dan Al-Farabi mengenai hal ini. Menurutnya, akal itu satu dan bersifat universal. Artinya, bukan hanya akal aktif, namun juga akal potensial. Keduanya sama dan dimiliki oleh setiap orang.
Akal potensial baru menjadi individu tertentu bila dihubungkan dengan bentuk materi yang berujud manusia individu. Maka, ketika orangnya meninggal dengan demikian lenyap pula akal potensial tersebut. Yang dimaksud akal di sini artinya roh atau jiwa yang bersatu dengan jasad manusia, sebab akal menjadi unsur penting bagi jiwa manusia. Akal tersebut merupakan wujud rohani yang berbeda dengan roh atau jiwa tumbuhan dan binatang. Yang dimaksud roh universal itu adalah satu dan abadi.
