Apa yang dituduhkan mereka itu sebetulnya berakar dari kritik Al-Ghazali terhadap filsafat. Padahal, bila kita telaah lebih jauh lagi, sebetulnya Al-Ghazali hanya mengkritik tiga hal pada filsafat, yaitu tentang Tuhan tidak mengetahui sesuatu yang kecil, kebangkitan jasmani dari kubur, dan kekekalan alam semesta.
Artinya, Al-Ghazali tidak mengharamkan filsafat secara mutlak. Dengan adanya kritikan dari Al-Ghazali ini, maka kemudian Ibnu Rusyd melakukan pembelaan terhadap filsafat melalui karya momumentanya yang berjudul Tahafut Al Tahafut atau Kerancuan dalam Kerancuan. Buku ini merupakan kritikan terhadap karya Al-Ghazali.
seperti apa sesungguhnya pemikiran filsafat Ibnu Rusyd hingga terlibat polemik dengan Al-Ghazali hingga mempengaruhi pemikiran dunia Islam. Berikut inti pemikiran filsafatnya.

(1) Tentang Filsafat
Dalam bukunya Tahafut al Tahafut, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa filsafat sama sekali tidak bertentangan dengan agama, sebagaimana yang dituduhkan Al-Ghazali dan ulama fikih. Menurutnya, umat Islam justru wajib belajar filsafat. Sebab, belajar filsafat mengajak orang-orang untuk selalu berpikir, sedangkan berpikir itu sendiri merupakan “sunah Nabi” —memimnjam istilah Prof Musa Asy’ari “berfikir profetik.”
Selain itu, banyak ayat Al-Quran yang menyindiri manusia agar berpikir. Misalnya, ada ayat yang mengatakan “Apakah kamu tidak berpikir?” (Al-Baqarah: 44) atau “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar supaya kalian memikirkannya.” (Al-Baqarah: 266). Dan masih banyak sekali ayat Al-Quran yang menyeru agar manusia menggunakan akalnya untuk berpikir, dengan kata lain berfilsafat. Jika ada pendapat akal dan wahyu yang bertentangan, maka solusinya harus diberikan intepretasi atau penafsiran sehingga sesuai dengan penafsiran akal.
(2) Tentang Tuhan
Dalam persoalan ini tampaknya Ibnu Rusyd mengamini pendapat Aristoteles, yang mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu perkara-perkara kecil. Dia mengibaratkan seperti seorang presiden atau raja yang tidak mengatahui perkara-perkara kecil di wilayah kekuasaannya. Menurutnya, Tuhan itu sebagai penggerak akal murni yang memiliki derajat sangat tinggi. Oleh sebab itu, agar sejalan dengan derajat tinggi tersebut, maka pengetahuan Tuhan harus seimbang dengan kemuliaan zat-Nya sendiri (Baca:Berkenalan dengan Filsafat Islam).
