Betapa menyakitkannya waktu demi waktu aku lalui hanya dengan meraba-raba wajah yang disembunyikan kegelapan. Tapi apa yang salah, ketika kegelapan itu mulai tersingkap, yang aku rasakan justru lebih menyakitkan lagi.
“Oh no. Tidak. Bukan.”

Itulah yang pertama diucapkan oleh sosok perempuan yang aku yakin adalah ibuku ketika pada suatu hari aku bisa menemukannya setelah sekian lama dihantui bayangannya yang tersembunyi di balik kegelapan.
Dengan menempuh berbagai cara, aku akhirnya memang bisa menemukannya. Ia berada di suatu tempat, tempat ia biasa menghabiskan waktunya, tempat yang dijadikannya untuk menunggu dan bertemu dengan relasi-relasinya. Saat itu ia duduk dengan khusyuk memunggungi pintu. Duduk persis di tengah ruangan yang cukup luas.
Lama aku terhenti di depan pintu, mencari-cari kekuatan untuk mendekatinya. Di depan sana ia duduk seorang diri. Mungkin ia memang sedang menunggu seseorang. Tubuhnya ramping, dan masih terlihat sangat segar untuk perempuan seusianya. Tanpa bersuara aku akhirnya melangkah mendekatinya, dan duduk di kursi kosong yang ada di sampingnya. Kursi yang entah disiapkan untuk siapa.
Ketika ia merasakan kehadiran orang lain, ia menoleh dan kami saling menatap secara bersamaan. Aku tersedot oleh tatapan matanya. Kerling mata yang selalu tersembunyi di balik kegelapan. Pandangannya menyelidik dan penuh tanda tanya.
Tanganku gemetar memegang tangannya. “Akulah bayi lelaki itu, yang pernah kau lahirkan di muka bumi ini.”
Ia menarik tangannya, juga seluruh tubuhnya, menjauh. “… tidak. Bukan. Aku tak pernah melahirkan seorang bayi, dan tentu saja kau bukan anakku.”
Aku terpaku. Menatapnya dalam-dalam. Menatapi wajah yang selama ini tersembunyi di balik kegelapan.
“Aku hanya ingin merasakan rasanya memiliki seorang ibu yang melahirkanku dari rahimnya. Itu saja. Tak lebih.”
“Kau salah alamat. Dan di sini bukan tempatmu. Pergilah!”
Mungkin memang belum saatnya, begitulah suara batinku. Aku meninggalkannya setelah meletakkan kartu nama dan salinan akta kelahiran yang telah menerakan namanya sebagai ibu kandungku di atas meja, di depannya. Di ambang pintu, aku membalik badan, untuk menatapnya sekali lagi. Ia masih duduk dengan khusyuk di sana, kali ini punggungnya terlihat terguncang pelan. Dan aku segera melangkah pergi dengan dada penuh nyeri.
Selebihnya aku hanya bisa menunggu kapan kesempatan itu tiba: mencium kakinya.
Depok-Lampung Tengah, 21 Desember 2021.
