“Kenapa?”
“Bagaimana mungkin aku punya anak dari seorang pelacur.”

Malam itu, dunia benar-benar terasa lebih gelap.
***
Di tengah kegelapan itu aku meninggalkan segalanya. Di tengah kegelapan itu, aku berjalan terhuyung-huyung karena menggendong beratnya pertanyaan itu: benarkah aku anak seorang pelacur? Bagaimana mungkin aku akan menjalani sisa hidup tanpa mengetahui siapa ibu kandungku yang sebenarnya?
Di sanalah aku untuk beberapa lama, berlindung di balik kegelapan. Sampai akhirnya aku melihat ujung dari sebuah lorong. Aku mendengar kabar yang samar tentang siapa sebenarnya ibu kandungku setelah sejumlah orang tak kuasa lagi mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ibuku adalah ia yang dicampakkan bapakku tak lama setelah melahirkanku. Yang menyakitinya bukanlah karena ia ditinggalkan. Yang melukai hatinya dan menghancurkan hidupnya adalah ketika aku juga direnggut dari pelukannya. Sebab, ketika itu, akulah satu-satunya kekayaan hidup yang dimilikinya. Akulah kebahagiaan hidupnya. Itulah cerita sebagian orang yang akhirnya berani mengurai rahasia yang sekian lama dikubur dalam-dalam.
Benar kata orang, kadang kebenaran akan terasa lebih pahit dari empedu dan kita akan terdorong untuk melepehnya. Itulah yang aku rasakan ketika memperoleh kebenaran tentang siapa sesungguhnya ibuku. Ia memang melacurkan diri, menjadi simpanan banyak pejabat atau pengusaha, tapi itu dilakukannya setelah menjadi perempuan yang dicampakkan. Bukan sebelumnya. Tujuannya bukan semata-mata untuk membangun kemapanan, tapi justru untuk menghancurkannya. Banyak kemapanan hidup pejabat atau pengusaha yang akhirnya hancur setelah menjadikannya sebagai gundik. Ia tak pernah merahasiakan apa yang dilakukannya. Dengan caranya sendiri, ia selalu membocorkan pergundikan yang dilakukan hingga satu-satu pejabat-pejabat atau pengusaha-pengusaha itu jatuh.
“Itulah kenapa bapakmu menutup rapat-rapat rahasia ini,” kata seseorang. “Agar kamu tetap terjaga, bersih, dan masa depanmu tak terganggu.”
Aku tak bisa berkata-kata menghadapi kenyataan itu. Teringat semua apa yang dilakukan bapak agar aku tidak pernah mendapati kenyataan seperti ini, agar aku tak terpengaruh oleh kehidupan ibuku sendiri.
“Ibumu juga belum tentu akan menerimamu, entah dengan alasan yang sama atau alasan yang berbeda,” kata seseorang lagi ketika aku mengajukan kemungkinan untuk mencari dan menemui ibuku.
Itu juga yang membuatku bimbang dalam menentukan pilihan. Jika memilih menempuh jalan yang telah disiapkan bapakku untuk masa depanku, maka aku harus tetap menyembunyikan rahasia tentang siapa jati diri ibuku. Jika rahasia ini terbongkar, semua rencana akan berantakan. Masa depan akan suram. Sebab, dunia bapakku adalah dunia citra. Dunia yang juga telah disiapkan untukku. Dunia yang hanya menerima orang-orang yang bercitra baik. Orang-orang yang bercitra buruk harus minggir ke comberan. Siapa sudi bergaul dan berkongsi dengan diriku jika tahu bahwa aku adalah anak seorang pelacur?
***
Tapi di sinilah aku sekarang. Di dalam gelap, selalu meraba-raba wajah ibu, perempuan yang dua puluh dua tahun lalu telah melahirkanku dari rahimnya sendiri. Wajahnya seperti apa, rasanya seperti kegelapan itu sendiri. Di saat-saat seperti itu, aku teringat kata orang, bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Bagaimana mungkin aku bisa mencium telapak kakinya, bila wajahnya saja serupa kegelapan itu sendiri?
