Weber menjelaskan bahwa dalam dunia nyata, pemimpin atau agen perubahan tidak bisa hanya bertindak berdasarkan keyakinan moral yang mutlak, melainkan juga harus mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka. Seorang nabi, reformis, atau aktivis sejati adalah mereka yang bisa menyeimbangkan kedua etika tersebut—tetap berpegang pada nilai, namun sadar akan realitas yang dihadapi.
Dari Marx, Gramsci, Weber, hingga Nabi Muhammad SAW, kita belajar bahwa idealisme dan realisme bukanlah dua entitas yang mesti dipertentangkan. Justru, dalam sintesis keduanya terdapat potensi besar untuk perubahan sosial yang berakar pada etika dan berpijak pada realitas.

Dalam konteks masyarakat kontemporer yang sering terjebak antara apatisme pragmatis dan idealisme kosong. Pendekatan semacam ini menjadi amat relevan.
Dengan demikian, alih-alih memilih antara menjadi idealis atau realistis, yang dibutuhkan hari ini adalah kapasitas untuk terus mempertahankan kompas moral (ideologi), sambil berjalan di atas tanah yang konkret (realitas). Itulah yang membedakan aktivisme yang transformatif dari sekadar romantisme perlawanan, atau sebaliknya, dari pragmatisme yang membebek pada kekuasaan.
Sebab, sebagaimana sejarah telah menunjukkan: perubahan sejati lahir dari keberanian memimpikan dunia yang lebih adil, dan kesediaan untuk berjuang di tengah dunia yang belum adil.
