Ikatan Batin Santri dan Kiai

Salah satu kebiasaan saya, bahkan hingga saat ini, adalah mengirimkan fatihah kepada Kiai Warits. Amalan ini saya lakukan demi ikatan batin yang semakin kuat, serta sebagai ketakziman seorang santri kepada guru. Saya berharap bahwa amalan ini akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pada suatu kesempatan yang lain, saat saya sudah tidak di pondok lagi, ada sebuah kisah yang tidak mungkin saya lupakan. Saya keluar dari pesantren karena kondisi keuangan orang tua yang tidak memungkinkan. Seringkali —saat saya masih aktif sebagai santri— kiriman dari orangtua habis di pertengan bulan. Itu artinya saya harus pandai-pandai mengatur persediaan makanan dengan cara berpuasa sesering mungkin. Setelah saya menjadi alumni, ada tanggung jawab lain yang menjadi beban saya. Yaitu harus mencarikan biaya pendidikan di pondok ini untuk adik saya. Adik saya, perempuan, tentu tidak akan setangguh laki-laki dalam menghadapi kenyataan hidup di pondok. Jadi, sebisa mungkin saya memenuhi setiap kebutuhan adik saya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Suatu ketika, kondisi keuangan sangat memprihatinkan. Saya tidak punya uang untuk diberikan kepada adik saya yang sedang belajar di pondok. Benar-benar mendesak dan benar-benar tidak ada uang sepeser pun. Maka, saya pun memberanikan diri menghadap Kiai Warits untuk meminjam uang. Entah mengapa saya begitu nekat dan berani melakukan hal itu. Baru akhir-akhir ini saya memahami bahwa di balik takdir itu ada hikmah pembelajaran yang sangat berharga.

“Ada perlu apa, Lik?” begitu kiai Warits menanyakan keperluan saya.

“Saya mau pinjam uang, Kiai,” saya menjawab apa adanya.

“Buat apa?”

“Buat keperluan adik saya.”

“Berapa?”

Tinggalkan Balasan