Namun, alat yang digunakan masih menyewa dan untuk cetak masih menggunakan jasa dari luar. Sementara, NIMedia sudah merambah dunia kreatif dengan alat seadanya dan tak jarang terkendala karenanya. Karena itu, kedua pengelola usaha rintisan tersebut mencoba peruntungan dengan mengikuti program kemandirian pesantren dari Kemenag ini.
Hasilnya, kini mereka sudah memiliki alat yang memadai untuk menunjang jasa yang mereka tawarkan dan menambah kepercayaan diri untuk menggaet konsumen. Kini, NIMedia berani membidik target pasar seluruh lapisan masyarakat. Pemasarannya pun dilakukan baik secara offline maupun online.

“Kami tidak gentar untuk mendaftarkan usaha ini, sebab program ini sangat menguntungkan bagi usaha pesantren. Dan memang tujuan dari pemerintah ini untuk mengembangkan usaha di pesantren,” tutur Ozi, pengelola NIMedia.
Sama dengan NIMedia, DA Studio kini sudah merambah pasar masyarakat umum yang mulanya hanya menargetkan pada mahasiswa saja. Namun, mereka juga menghadapi tantangan dan persaingan yang sengit di pasar terbuka.
“Kami masih mengalami kendala keterbatasan SDM. Jadi tidak selalu tiap event kami bisa berangkat. Kayak di UIN Saizu wisuda periode ini (Mei), tidak berangkat karena kami sibuk masing-masing,” tutur Astrid, salah satu pengelola DA Studio.
