Karena itu, DA Studio masih mencari SDM lain dan go with the flow dulu, yang penting jalan dulu. Sebab, saat ini pengelolaan juga masih belum terorganisasi dengan baik dan masih dipegang perorangan.
Hal ini berbeda dengan NIMedia, yang sistem manajemennya yang sudah cukup tertata dan lebih siap bekerja sama dan untuk menggaet elemen-elemen besar yang membutuhkan jasa yang ditawarkan. “Usaha ini profesional, tidak lagi melibatkan pesantren,” ucap Ozi.

Dalam perkembangannya, NIMedia sudah bisa memberi tambahan pemasukan bagi pesantren walaupun nominalnya belum begitu besar. Sedangkan, di DA Studio pesantren baru bisa merasakan fungsi dari gear yang mereka miliki sehingga tidak perlu mengeluarkan dana untuk penyewaan alat ketika kegiatan. Sebab dana yang terkumpul dari DA studio masih belum disalurkan untuk antisipasi kebutuhan darurat studio dan perawatan alat.
Meskipun mengalami perkembangan yang berbeda, berkat program kemandirian pesantren ini, mereka menjadi memiliki alat dan toko sendiri. NIMedia sudah memiliki toko di pinggir jalan yang dinilai cukup strategis. Meskipun dengan kondisi lahan yang kurang menguntungkan menghadap jalan tidak menjadi masalah baginya. Adanya neon box yang dipasang di pinggir jalan menjadi penanda lokasi NIMedia. Lokasi yang menghadap halaman pesantren juga lebih lega dan memungkinkan pelanggan parkir dengan leluasa.
Tak jauh berbeda, DA Studio juga sudah memiliki alat yang memadai dan studio yang terletak di samping masjid Darur Abror. Hanya, lokasinya yang berada di dalam kompleks pesantren tidak terlihat dari akses masyarakat umum. Sehingga untuk mencapai lokasi tersebut harus melewati pemandangan kompleks pondok dengan segala lika likunya terlebih dahulu serta tempat parkirnya jauh serta kurang leluasa.
