Islam (Itu) Santai

Itu adalah sebuah contoh kecil dari Nabi dalam berdakwah. Bagaimana agama disampaikan dengan cara paling lembut dan adem-ayem. Maka interpretasi terhadap sejarah perlu diberlakukan sebagai alamat kita menempuh jalan ke depan. Karena yang terpenting dari sejarah bukan kebenaran, melainkan aspek-aspek inspiratif yang berkelindan dengannya.

Dari itu penelaahan terhadap sejarah perlu dilakukan. Agar kita—utamanya para dai—tidak terjerumus pada metode ekstrem pensyariatan di kalangan umat. Tidak mudah menuduh kafir sesama muslim yang hanya berseberangan pendapat. Apalagi dalam hal-hal yang bersifat cabang(furuiyyah).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terlepas dari masalah pokok, semisal kewajiban salat, zakat, puasa, dan sebagainya. Itu penting diwujudkan sebagai jalan membentuk kacamata orang tentang Islam. Karena, dari sekian banyak orang yang berteriak jihad fi sabilillah atas nama Islam, sambil melaksanakan praktik bom bunuh diri. Itu sudah sedikit menodai Islam sebagai agama penyandang status rahmatan lil alamin.

Juga yang seharusnya jadi cerminan, metode dakwah Wali Songo di Tanah Jawa. Metode penggabungan teks-teks agama dengan tradisi sosial budaya. Sebuah terobosan mencengangkan yang dilakukan para ulama terdahulu dalam penyempurnaan penyebaran Islam. Semisal, Sunan Kalijaga memasukkan doktrin-doktrin agama dalam pementasan wayang kulit. Dari hal-hal kecil demikian sebuah perubahan dapat diwujudkan . Doktrin agama akan menyatu dengan tubuh masyarakt luas.

Kalau ditarik pada konteks kekinian, kita harus mampu menguasai media (utamanya media sosial) dalam berdakwah. Mengunggah konten-konten bernuansa Islam di kanal-kanal Youtube, Facebook, dan lain-lain. Tidak perlu melarang mengoperasikan sebuah media selama media tersebut masih bisa menyebarkan kebaikan meski sebesar zarrah. Tugas kita hanya mengasah kemampuan memonopoli media dalam menyebarkan doktrin-doktrin agama Islam yang paling efektif.

Tinggalkan Balasan