Islam Moderat Identik Pro-Barat?

Menurutnya, mereka tidak menggunakan Al-Qur’an, sunah, pendapat para sahabat, tabiin, dan pengikut tabiin sebagai pedoman, melainkan hanya mengekor kepada gagasan Barat yang mereka nilai sebagai simbol kemajuan.

Ini tidak bisa dibenarkan. Juga bukan berarti umat Islam tidak boleh berdialektika dengan pemikiran Barat. Akan tetapi yang harus ditetapkan di dalam hati mereka adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah hudan, Al-Qur’an adalah kitab yang di dalamnya memuat pengetahuan yang kompleks, lahiriyah maupun rohaniah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hakikat Paham Moderat

Barat melihat Islam sebagai agama yang penuh teror dan radikal. Asumsi itulah yang menjadi salah satu faktor terbesar dari adanya gagasan Islam moderat. Pada dasarnya Islam moderat memiliki fungsi memberikan definisi Islam yang berwibawa tentang Islam yang benar.  Islam moderat juga menjadi wacana tentang sikap kontradiksinya dengan Islam ekstremis.

Akan tetapi, nilai-nilai Barat yang terinternalisasi dalam paham moderasi yang diharapkan mampu membentuk ajaran yang sistematis dan relevan, justru membawa kepada paham yang relatif jauh. Paham moderat ditampilkan dengan keimanan dan kepercayaan terhadal nilai-nilai liberal.

Lebih jauh lagi, bahwa Islam moderat tercipta dari nilai-nilai pencerahan bangsa Eropa/Barat. Jika tidak dengan gerakan liberalisme sekuler, maka tidak akan muncul paham Islam moderat. Asumsi tersebut tidak benar-benar bisa disalahkan, tetapi akan menjadi kekacauan jika dengan asumsi tersebut pada akhirnya Islam moderat menjadikan Barat sebagai kiblat agama.

Pada hakikatnya, Islam moderat menginginkan Islam yang tertib, damai, dan toleran. Nilai-nilai tersebut, pastinya sudah tercantumkan dalam ayat-ayat Tuhan dan titah Rasul. Nilai-nilai Barat, hanya perlu dijadikan opsi untuk mengupas perintah-perintah Tuhan dan rasul-Nya tersebut. Kiblat Islam moderat tetaplah Al-Qur’an dan sunah, sedangkan peradaban Barat tidak patut dijadikan kiblat.

Tinggalkan Balasan