Islam Moderat Identik Pro-Barat?

Moderat merupakan sikap keagamaan yang lurus, di tengah, tidak bertendensi ke mana pun, sebagai upaya menjaga stabilitas umat. Islam yang moderat berarti sikap atau upaya berpikir yang lurus, dengan landasan keimanan dan keilmuan, serta membentuk pola pikir masyarakat yang mencintai keadilan dan perdamaian.

Berkaca dari tragedi-tragedi kekerasan yang mengatasnamakan agama, bahwa hal semacam itu merupakan kecacatan dalam beragama yang bersumber dari ideologi pikiran yang anarkis dan radikal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada akhirnya, yang ditunjukkan adalah sikap sentimentil dan subjektivitas dalam menegakkan syariat, yang pada akhirnya membentuk gerakan seperti pengusungan ideologi transnasional dan terorisme. Islam moderat menganggap hal itu sebagai ghulluw fi al-diin (berlebih-lebihan dalam beragama).

Ghulluw fi al-diin sendiri merupakan sikap beragama yang dikecam oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam negara-bangsa (nation-state) yang perlu ditunjukkan bukanlah agresivitas melainkan kualitas. Hal yang semacam itulah yang diinginkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Bukan Pro-Barat

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Barat memiliki jalan interpretasi yang kritis dan radikal, yang tidak dimiliki oleh bangsa Timur. Pikiran moderat dalam beragama mewarisi sikap-sikap kritis dari bangsa Barat, termasuk mengaplikasikan sikap kritis tersebut ke dalam ranah interpretasi teks agama.

Kendati demikian, sejatinya Islam telah memiliki nilai-nilai kritis tersebut. Hal itu tercermin dari tokoh-tokoh Islam pada masanya seperti al-Farabi, Ibn Arabi, Ibn Khaldun, al-Khawarizmi, dan lain-lain. Akan tetapi, yang mencolok di mata dunia adalah bahwa peradaban Baratlah yang memberikan fondasi metodologis tersebut.

Yusuf Qardhawi pernah menyebut umat Muslim yang mengekor ke Barat dengan sebutan budak pemikiran Barat (‘abid al-fikr al-gharabi). Ia menilai bahwa kelompok Islam jenis ini merupakan kelompok yang tidak bangga dengan keislamannya.

Tinggalkan Balasan