Hanum Jazimah dalam jurnal Interdisciplinary Journal of Communication mengatakan bahwa islam nusantara adalah islam yang khas ala Indonesia. Islam Nusantara adalah gabungan nilai-nilai tradisi lokal, budaya dan adat istiadat di Tanah air. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam. Pertemuan antara Islam dan tradisi Nusantara kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan bernama pesantren serta sistem kesultanan. Tradisi itulah yang kemudian disebut Islam Nusantara, yakni Islam yang telah menyerap dan menyebar melalui tradisi dan budaya Nusantara.
Dalam keterangan selanjutnya, Islam Nusantara merupakan Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima oleh Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni lil ‘alamin. Oleh karena itu, Islam Nusantara merupakan cara mengimplementasikan Islam dengan pendekatan kultural, sehingga merawat dan mengembangkan budaya lokal yang sesuai dengan ajaran Islam dan berusaha mewarnai tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam manakala budaya tersebut masih belum bernapas Islam. Seperti kita pahami bersama bahwa Islam sangat menghargai kreasi-kreasi kebudayaan masyarakat senyampang tidak menodai, menegasikan, dan mencabik-cabik kemanusiaan; ia pasti akan dipertahankan.

Tidak heran jika Prof Dr Azumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII Dan XVIII mengurai bahwa Islam yang ada di belahan dunia saat ini harus melihat dan mengacu pada hadirnya Islam Nusantara. Mengapa demikian? Hadirnya Islam Nusantara yang mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawassuth (moderat) tidak ekstrem kanan-kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran, dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Model Islam Nusantara pun bisa dilacak dalam konstelasi sejarah masuknya ajaran Islam ke Nusantara yang disebutnya melalui vernakularisasi dan diikuti proses pribumisasi, sehingga Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia.
Walhasil, Islam Nusantara tidak homogen. Pluralitas dan hetrogenitas adalah keniscayaan yang dianugrahkan Tuhan Maha Esa kepada kita untuk selalu memahami bahwa kita beragam dan bisa hidup berdampingan. Semoga, hadirnya Islam Nusantara di Indonesia menjadi inspirasi dunia untuk menciptakan model baru menyikapi budaya, tradisi, dan adat yang ada di negara lain, sehingga Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dirasakan di belahan dunia tanpa harus berteriak lantang Allahu Akbar dengan fahsya dan Mungkar. Wallahu a’lam.
