In a little while, the wind returned with an answer. “O dervish, in this city you’ll find only two extremes, and nothing in between. Either pure love or pure hatred. We are warning you. Enter at your own risk.”
“In that case there is no need to worry,” I said. “As long as I can encounter pure love, that’ll be enough for me.” (Shafak, 2010: 68)

Perjalanan Shams menuju Konya, tempat Rumi, diceritakan dari beragam sudut pandang, termasuk Shams dan orang-orang yang ditemuinya: pengemis, pemabuk, pelacur, anak angkat Rumi, kedua anak lelaki Rumi, istri Rumi, Rumi sendiri, orang-orang yang kelak menjadi pengikut Shams, dan orang-orang yang kelak menjadi pembunuh Shams Tabriz.
Dalam narasi tersebut, ditunjukkan bagaimana orang-orang mengagumi dan membenci Shams dan bagaimana Rumi sendiri begitu mencintai Shams. Empat puluh kaidah cinta Shams pun dijabarkan satu persatu dengan berbagai konteks permasalahan hidup. Secara keseluruhan, novel ini menunjukkan bagaimana Shams merengkuh orang-orang papa, termasuk pengemis dan penderita kusta, pelacur, dan pemabuk dengan cinta dan kasih karena bagi dia, cinta pada Tuhan hanya bisa dimanifestasikan dengan mencintai ciptaan-Nya:
