Yang Merawat Kehidupan

Seperti ghalibnya, dari tahun ke tahun Mbok Salamah menyambut bulan suci dengan sesuatu yang menggebu. Bulan suci selalu mengingatkannya akan dua hal: anak semata wayangnya, Ramadan, yang memang lahir di bulan Ramadan, 45 tahun silam; bulan di mana Izrail menjemput suaminya berpulang terlebih dahulu.

Sudah menjadi rutinitas tahunan, di sela tadarusan malam, Mbok Salamah sebisa mungkin membagi rezeki yang dimiliki; terkadang ketela goreng, utri, ote-ote, keripik pisang, atau kolak kacang ijo. Oleh Mbok Salamah, tiap tahun pun, dua tiga anak yang rajin dihadiahi sarung, songkok, dan baju koko. Itulah amalan yang didapatkannya dulu selama beberapa tahun menjadi santri kalong di Lirboyo.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika Ramadan sudah lewat setengah, rumah Mbok Salamah yang tepat berada di sebelah musala mulai berbenah. Mulai serat-serat kursi penjalin tua yang diperbaiki, dinding kusam diplamir lalu dicat lagi, daun pintu yang distel berulang kali, menyikat kerak di kamar mandi, atau perabot yang mulai dipindah-pindah posisi. Mbok Salamah sudah terbiasa meminta tolong Darman, anak Mbok Atun, untuk mengerjakan semuanya. Dengan bantuan Darman dan istrinya, rumah yang mungkin seusia pemiliknya itu seakan menjadi baru.

Lalu, Mbok Salamah juga menghitung ulang uang pensiunan janda yang tiap bulan diterima dan hasil kebunnya. Ia siapkan dalam bentuk paket sembako sekadarnya. Warga yang sudah berumah tangga akan mengambil bingkisan itu setelah bertamu di rumahnya.

“Itu dulu wasiat almarhum Mbah Sukur, Nak! Muliakan bulan Ramadan! Dan sambut hari kemenangan!” petuah Mbok Salamah pada anak-anak musala.

“Yang masih kuat, ya puasa dan salat. Yang punya rezeki, berbagi. Yang bisa ngaji, ngaji,” tambah perempuan yang usainya sudah kepala tujuh ini.

Rumah Mbok Salamah yang tepat di samping musala itu menjadi muara berkah sekaligus pelarian bagi anak-anak musala. Mbok Salamah sering kali menjadi sasaran kerepotan anak-anak. Mulai minta kayu bakar, gula, kopi, sabun mandi, pasta gigi, hingga nasi adalah suatu hal yang lumrah terjadi. Sesekali anak-anak musala lancang pinjam tikar, wajan, panci, hingga sepeda.

“Mbok tidak keberatan. Asal musala ini kalian makmurkan,” kata Mbok Salamah yang sudah lama hidup sebatang kara.
“Siapa lagi kalau bukan kalian yang ke mari,” demikian biasanya Mbok Salamah mengawali ceritanya. Jika anak-anak musala sudah nampak mengantuk, ia akhiri begitu saja. Dan anak-anak itu akan tahu sendiri ke mana harus merebahkan tubuhnya.

***

Mbok Atun, perempuan lanjut usia ini masih saja hidup menepi di ujung desa; membentang persawahan nan begitu luasnya. Ia pelihara beberapa ekor ayam dan kambing jawa untuk mengisi hari-harinya. Maklum, sang suami yang telah lama pergi merupakan seorang petani asli.

Di depan rumahnya, selalu ia sediakan meja kecil dengan kendi berisi air putih. Di sampingnya berganti-ganti buah hasil kebunnya: pisang, nanas, pepaya, atau jambu dersana. Kalau ada penjual keliling lewat, ia selingi dengan snack kesukaan anak-anak. Para petani dan pencari rumput sudah paham betul ke mana larinya jika untuk sekadar pelepas dahaga.
Rumah Mbok Atun yang masih berlantai mester pun tak luput dari pantauan. Seringkali mesin diesel, selang, paralon, gledhekan, luku, dan cangkul yang singgah di rumah Mbok Atun untuk besok dipakai lagi di sawah.

“Dibawa saja pisangnya. Untuk anakmu di rumah,” begitu kata-kata Mbok Atun jika senja hari buah-buahan di meja kecilnya tersisa.

Pura kecil di pinggiran persawahan masih ia rawat sebaik-baiknya. Membersihkannya dari guguran kering daun kamboja, menghilangkan ilalang, hingga rutin memberikan sesaji kepada Sang Hyang Widhi. Tak banyak lagi yang datang ke pura ini. Hanya beberapa orang dari desanya yang tersisa; selebihnya warga luar desa.

“Darman sekarang tidak ke pura lagi ya, Mbok?” tanya seorang warga luar desa yang kebetulan sembahyang di pura.

“Sudah lama. Ia mengikuti Alifah, istrinya.”

***

Puasa kali ini Mbok Salamah mulai dilanda kegundahan. Jika ditengok ke belakang, kegundahan ini sudah agak lama ia rasakan. Sejak Alimuddin dan kawan-kawan sepermainannya lulus SMA, lalu mereka semua merantau ke kota, Musala Nurul Fikri menjadi sepi. Saat jamaah salat fardu, hanya beberapa orang saja, itu pun kaum lanjut usia.

“Ayo cepat pulang. Sudah hampir maghrib kok masih di sawah. Waktunya sembahyang,” berkali-kali suara Mbok Atun mengusir anak-anak yang masih bermain layangan di sawah.

Cerita dari Mbok Atun malah membuat Mbok Salamah berpikir panjang. Anak-anak kini lebih suka menyibukkan diri di warung ber-wifi, pos kamling, bermain layangan di sawah, atau berlama-lama di pinggiran jembatan sembari memancing ikan.

Terlebih setelah para perangkat desa mengimbau para warga untuk bekerja dan beribadah di rumah saja, musala turun drastis jamaahnya. Azan masih saja berkumandang dengan suara tua yang kian nyalang, puji-pujian semakin lama dilantunkan, jemaah yang datang tetaplah orang yang sama dan bisa dihitung dengan jemari tangan.

“Meski dalam salat, mohon menjaga jarak!” petunjuk imam sebelum memulai salat.

Tinggalkan Balasan