It’s easy to love a perfect God, unblemished and infallible that He is. What is far more difficult is to love fellow human beings with all their imperfections and defects. Remember, one can only know what one is capable of loving. There is no wisdom without love. Unless we learn to love God’s creation, we can neither truly love nor truly know God. (Shafak, 2010: 73)
Secara kritis, novel ini tidak semata mengisahkan fiksi historis tentang pertemuan Shams dan Rumi, tetapi juga menunjukkan representasi ideologi Islam sebagai agama damai yang mempromosikan cinta kasih, toleransi, dan memberikan kebebasan berpikir serta bersikap. Hal itu ditunjukkan oleh empat puluh kaidah cinta yang dirumuskan oleh Shams Tabriz:

As I went through all these experiences, I began to compile a list that wasn’t written down in any book, only inscribed in my soul. This personal list I called The Basic Principles of the Itinerant Mystics of Islam. To me these were as universal, dependable, and invariable as the laws of nature. Together they constituted The Forty Rules of the Religion of Love, which could be attained through love and love only. (Shafak, 2010: 33)
Furlanetto, dalam artikelnya yang berjudul The ‘Rumi Phenomenon’ Between Orientalism and Cosmopolitanism mengungkapkan bahwa ketika novel Shafak terbit, Rumi telah menjadi semacam budaya populer di Amerika karena banyak yang tersihir dengan pesan-pesan cinta dan toleransi dalam karya-karya Rumi sehingga buku puisi Rumi begitu laris di pasaran, bahkan isu terorisme 11/9 pun tidak bisa meredam popularitas Rumi. Meskipun ia berpendapat bahwa ada amerikanisasi dalam sosok Rumi dalam novel Shafak yang diparalelkan dengan kisah Ella dan Aziz dimana ada kesamaan pencarian teman spiritual dan transformasi spiritual, novel ini menampilkan sufisme dengan lebih universal dengan nilai-nilai moderat dan kosmopolis, tidak terbatas ruang dan waktu.
