Apakah ia adalah sejarawan? Tidak, ia memang mempunyai kemampuan retrokognisi, kemampuan kembali ke masa lalu untuk mengetahui apa yang benar-benar terjadi. Mengkhayal? Bisa jadi omongan yang saya ujar ini salah. Ini semua adalah perihal kepercayaan, dan saya tidak bisa memaksa bahwa kepercayaan saya yang paling benar. Kita bisa percaya atau tidak. Semua kembali ke diri kita.
Namun, hal yang membuat saya berpikir bahwa retrokognisi ini sebenarnya bukan hal yang mustahil adalah, bahwasanya retrokognisi adalah sebuah kemampuan yang mana semua hal itu bisa dipelajari. Kepekaan adalah kunci, dan bukti yang tertinggal juga berperan dalam mengasah kemampuan retrokognisi kita.

Seorang sejarawan tidak mungkin bisa mengetahui dan menjelaskan sejarah suatu peristiwa atau tempat dengan sangat luwes tanpa mendapatkan insight dan bukti terhadap hal tersebut terlebih dahulu. Semisal, sejarawan tidak akan berani memberikan informasi di hadapan peserta seminar mengenai kerajaan Majapahit, jika tidak ada narasi mengenai Majapahit di dalam otaknya. Jadi, bacaan mengenai Majapahit, sumber sejarah seperti prasasti, surat Lontar, artefak kerajaan, arsip yang tersimpan, adalah cara sejarawan menyusun peristiwa di masa lampau, dan persepsi yang tersusun itulah yang menjadikannya sebuah kemampuan retrokognisi.
Hanya, jika kita sedang membicarakan mengenai ilmu sejarah secara empiris, retrokognisi selalu dikaitkan dengan kajian yang ilmiah, sedangkan jika membicarakan mengenai kemampuan retrokognisi yang dilakukan oleh seseorang yang memang mempunyai kemampuan akan hal itu, maka kita selalu berbicara mengenai klenik. Padahal, bukankah di akhirat nanti mulut kita dikunci rapat dan semua yang pernah kita perbuat akan ditampilkan, tangan, kaki, rambut, batu yang pernah kita lempar, sendal yang pernah kita gunakan, pohon yang pernah kita sandari, semua akan menceritakan dan bersaksi mengenai kita semasa di dunia (masa lampau).
