Memori bukan hanya milik manusia. Bahkan, benda mati juga menyimpan memori. Bukan hal yang sulit untuk manusia pilihan Tuhan guna mengungkap semua yang terjadi di masa lampau, karena semuanya berdzikir kepada Allah, dan semua bisa berkomunikasi. Orang Jawa sangat menjaga hubungan bukan dengan hanya manusia, melainkan alam semesta; memayu hayuning bawana, memayu hayuning bebrayan.
Lalu, bagaimana jika sejarah dan retrokognisi ini dialihkan untuk pemahaman konsep Islam? Tentu saja dua hal tersebut bukanlah hal yang “modern” menurut kacamata Islam. Bahkan sebelum teori-teori ini bermunculan, Nabi Muhammad sudah mengaplikasikan pemahaman sejarah dan ilmu retrokognisi. Bahkan, Rasulullah diutus untuk memberi cahaya kepada zaman yang jahil; Rasulullah hadir untuk memutus sejarah jahil dan menyambung dengan sejarah baru.

Islam bahkan melampaui itu semua. Rasulullah dalam suatu riwayat juga melakukan hal-hal yang di luar batas pemahaman manusia, Prekognisi, atau kemampuan melihat masa depan. Apakah benar? Tentu iya, bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah sudah mendengar suara sendal Bilal bin Rabbah di dalam surga, padahal Bilal masih hidup bersama Rasulullah.
Apakah Rasulullah indigo? Tentu saja istilah itu kurang tepat. Kepekaan Rasulullah terhadap sifat baik dan kepekaan Rasulullah terhadap segala frekuensi di setiap makhluk inilah yang membuatnya bisa mengetahui hal-hal yang oranglain tidak ketahui. Soal benar dan tidaknya, itu adalah legitimasi dari Allah, yang mana tentu saja Allah sudah melegitimasi apa saja yang ada di dalam laku dan perkataan Rasulullah. Sedangkan kita? Tentu saja apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucap masih jauh dari apa yang Allah kehendaki.
