Islam Tradisional dan Keterbukaan Sosial

Namun, lamat-lamat pandangan itu dibantah dan dibuktikan dengan berbagai pengalaman santri yang turut berkiprah dalam membangun kehidupan sosial. Kita bisa lihat bahwa sejak abad ke 18-20 banyak tokoh santri Nusantara yang turut berkiprah menjadi pendidik di luar Nusantara. Karyanya pun menjadi rujukan sampai hari ini.

Syeh Nawawi Bantani, Syeh Mahfud Termas, Kyai Hasyim As’ari, Mbah Maimun Zubair, di masa Modern ada pemikiran Gus Dur, Gus Mus, KH Husain Ilyas, Romo Yai Agus Sunyoto dengan Atlas Walisongo nya. Di Post-modern ini ada Gus Yahya misalnya, dan lain sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Artinya, kiprah santri secara pemikiran turut serta mewarnai gerak dan pembangunan sosial. Hampir dalam semua lini sosial, pemikiran santri itu juga turut mewarnai, bahkan mendominasi.

Sehingga, predikiat pendidikan tradisional itu memang menjadi tanda bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan Islam dengan prinsip tradisi atau kultur yang dijaga ketat, namun sama sekali tidak stagnan. Pesantren justru turut serta mengambil ruang-ruang dan turut mengisi porsi-porsi dalam perkembangan dan kemajuan jaman.

Tinggalkan Balasan