Dari pemaparan dua ayat tersebut, setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa Islam juga mengakui adanya pengetahuan yang berdimensi empiris dan rasional. Di samping pengetahuan yang bersifat fisik tersebut, memang ada pengetahuan yang bersifat metafisik, yaitu pengetahuan yang bersumber dari wahyu ilahi. Namun, terlepas dari pengetahuan dan kebenaran metafisik tersebut, penting untuk dicatat bahwa Islam tidak pernah mereduksi pengetahuan dan kebenaran empiris dan rasionalis.
Islam memang memiliki titik persamaan dengan epistemologi, yaitu dalam kaitannya tentang pengetahuan dan kebenaran fisik. Namun, dalam konteks kebenaran metafisik, epistemologi tidak akan dapat menjangkaunya. Perbedaan utamanya jelas karena perbedaan worldview yang berbeda. Perbedaan worldview bukan berarti bahwa pengetahuan dan kebenaran yang dihasilkan oleh salah satu pihak adalah salah di mata pihak yang lain.

Referensi:
Al-Baidhāwi. Tafsir al–Baidhāwi. Diambil dari Maktabah Syamilah
Al-Mu’jam Al-Wasith (2004). Cetakan Keempat Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah.
Al-Qur`an Al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama. Diambil dari https://quran.kemenag.go.id/
Al-Samarqandi. Tafsir al-Samarqandi. Diambil dari Maktabah Syamilah
Hadi Yasin, M., Jannah, S. P., Nadiaturrohmah, T., & Izzatun, N. (2022). Islamic Worldview. Tahdzib Al Akhlak, 125-134.
Hasanah, H. (2016). Teknik-Teknik Observasi (Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial). Jurnal at-Taqaddum, 21-46.
Jurdi, F. (2024). Logika Konstitusi. Yogyakarta: Litera.
Pari, F. (2018). Epistemologi dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ilmu Ushuluddin, 190-210.
Vera, S., & Hambali, R. Y. (2021). Aliran Rasionalisme dan Empirisme dalam Kerangka Ilmu Pengetahuan. Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin, 59-73.
