Islamofobia dalam Tubuh Islam

Otoritas penafsiran itu, baik tafsir maupun takwil terhadap teks keagmaan (Syekh Nuqaib al-Attas), yang kemudian banyak melahirkan pertentangan-pertentangan karena jika digambarkan, banyak kepala banyak pikiran. Alasan dapat dijustifikasi ketika semua orang, tanpa terkecuali, melakukan penafsiran secara terbuka dan leluasa, bahkan tanpa melalui tinjauan kelayakan syariat. Akibatnya, Islam tampil dengan wajah yang beragam, tidak terkeculi nalar kekerasan tadi.

Di sinilah wacana berislam yang dinamis dibutuhkan. Beragama yang moderat baik secara paham dan pergerakan. Artinya, tidak kaku dengan teks-teks dan terus dinamis dengan konteks. Islam harus dipandang sebagai agama yang komprehensif, humanistik, dan holistik. Kekerasan hanya akan mereduksi nilai-nilai Islam itu sendiri sebagai agama yang fitrah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demikian halnya Islamofobia, ia adalah metamorfosa dari nalar berislam yang tertutup sehingga melegalkan daih agama sebagai dasarnya. Ini menjadi pelajaran, kekerasan dalam mendakwahkan Islam hanya mengakibatkan Islam terasing dari dinamika kehidupan.

Pada akhirnya, Islam tidak menemukan ruang berekspresi karena wajah Islam yang tampak ke permukaan hanya kekerasan. Maka, perbaikan itu harus dimulai dari tubuh Islam sendiri untuk memberikan kondisi yang ketat (syar’i) bagi siapa saja yang melakukan ijtihad dan dakwah yang memang sejalan dengan semangat kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan